<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Sehabis dari KBRI

Saturday, December 30, 2006
Sahabat, ternyata asyik juga di KBRI. Nyampe di sana, langsung disuruh ngambil makan. Tau ngga, aku tadi ketemu kenalan-kenalanku. Wah, untung aku bisa dateng. Soalnya hampir sebulan aku ngga ketemu sama mereka.

Aku ketemu si Taher Toing, si Aep, si Majid, si Ponky, si Dayat,si Razak, si Angga, si Baidlowi, si Idris, si Nadhief, si Anung, si Ribut, si Maulana, si Zamzami, dan si-si yang lain *ngabsen*. Tapi aku kok ngga lihat si Lukman, si Afif, Bambang, Imam, si Haykal, dan juga si Pipin. Kata Ponky, mereka ada di rumah. Mereka males, "No time" katanya. Wah, ternyata mereka sedang berhari raya dengan muqorrornya. Eit..Si Bombom sama Echuin kok ga ada juga ya, masa mereka ngga dateng juga sih. Kasian, mungkin karena terlalu jauh kali ya.

Setelah saling maaf-maafan, kita berbincang-bincang tentang kegiatan sebulan terakhir ini. Macem-macem cerita terlontar dari tiap-tiap mulut mungil mereka. Aku hanya diam saja, dan senyam-senyum mendengarkan obrolan-obrolan segar itu.

Hingga saya berkumpul dalam sebuah kelompok obrolan "konco lawas". Hehehe,Perutku terkocok. Siapa lagi kalau bukan Togel *Hanif*. Seru abiz. Bocah satu ini memang unik, antik,dan cerdik. Setiap obrolannya selalu membuat orang terpingkal-pingkal. Geli. Kalau di dekat dia, siapapun, harus siap dijadikan sebagai bahan pembicaraannya. Hehehehe. Ah..Dasar, Kayanya cocok jadi pengganti Kirun. hehehe. BAnyak yang mo diceritain, tapi ngga sanggup nulis.

Halah....Pokoknya, Asyiknya Rame-rame...hehehehe. Entar malem atau besok kita nyate.

O iya, Sekarang Hari raya, ya...

Malam ini, tubuhku menggigil, kedinginan. Padahal sudah aku timbun dengan dua selimut. tebal-tebal. Oh, dingin ini sungguh menggigit. Tapi kemudian aku terlelap juga. Ngga ada mimpi. Ngga bisa ingat.

"Duh dingin sekali..," ketika aku buka mata ternyata Fian yang telah membuka selimut yang aku pakai. "Phie, bangun!! ayo, kita ke masjid?" Aneh, kok kayanya ada yang lain dengan satu bocah ini. Begitu bersemangatnya dia membangunkan aku, tidak biasanya. "Ada apa?" pertanyaan konyol sih sebenarnya, tapi aku kan heran banget...soalnya seperti ada pancaran dari wajahnya. Ah..apa-lah itu. Lamat-lamat aku dengar gema takbir dari masjid. Aneh..kok ga berhenti-berhenti sih. Aku baru ingat, kalau sekarang adalah hari raya idul adha. Ya ampun, aku kira takbir adzan subuh. AKu segera berkemas, mandi *ngga biasanya mandi pagi-pagi. Suer..dingin*. dan segera ke masjid.

Wah, gila Men. Penuh sekali. Semuanya pada turun, dari mulai bocah-bocah cilik, pemuda-pemudi, bapak-ibu, kakek-nenek, semuanya turun. Waw..Suq sayyarah *pasar mobil* yang disulap menjadi tempat ibadah sementara ini begitu sesak, penuh dengan manusia yang sedang menikmati hari rayanya.

Setelah shalat, aku diajak sama si Fian ke KBRI. "Ngapain?" tanyaku. "Banyak" jawabnya singkat. "Diantaranya?" tanyaku mengejar. "Hah...ya banyak men. Kita disana bisa makan gratis, ngelihat Nil dalam suasana paginya, trus bisa ketemu sama kenalan-kenalan kita. Bisa juga ngelihat tante-tante KBRI dan om-om KBRI *mereka malu dipanggil bapak-bapak atau ibu-ibu KBRI; kata Fian*. Dan juga bisa ngelihat cewek-cewek hehehehehe..," terangnya panjang lebar.

aku terpaksa ikut, nemenin Fian. Dan kami pun menunggu di Mahattah Gami' *Halte Jami'*. Lama kami menunggu, sementara tubuh kami berdua menggingil kedinginan.

Setelah beberapa lama, datang juga bis yang kami tunggu-tunggu. Kami naik bis ber-Ac no.357 coret. Ketika Masuk ke dalam Bis, aku merasa semakin kedinginan. Aduh...dasar orang Mesir, musim dingin begini masih pake Ac. kalau hangat sih ngga papa. Sial. dan kami pun berangkat ke KBRI.

Pembaca *yang mo baca*, aku ke KBRI dulu ya. Doain ya, mudah-mudahan keberadaanku di sana bisa dapet sesuatu yang berharga, simplenya- perjalanku ke sana ngga sia-sia, gitu. Doain ya!! sorry jarang update.

Aku Pasti Kembali

Friday, December 15, 2006
Sama dengan hari-hari sebelumnya. Aku masih belum mampu menjadi diriku yang utuh. aku masih harus patuh pada peraturan, aku masih harus menuruti permintaan orang tua, aku masih harus membahagiakan keluarga. Karena itulah sebenarnya gunanya aku hidup di dunia.

Sebab itulah aku hidup. Hidup itu tidak lain adalah untuk membahagiakan orang lain. Namun, tiba-tiba saja aku sadar, bahwa ternyata hidup itu adalah untuk beribadah. Ya, bukan berarti beribadah harus diam di masjid terus, atau berdiam diri di rumah dengan terus-terusan berdzikir tanpa keluar rumah. Karena ibadah, bukan hanya di masjid atau di rumah. Beribadah, bisa di sungai, di hutan, di jalan raya, di gedung mewah, di gubuk reot, di tempat kumuh, bahkan di tempat pelacuran juga bisa melakukan ibadah.

Sampai saat ini, aku sendiri belum tahu, apa aku sudah benar-benar menjadi orang yang telah berhasil membahagiakan orang lain? atau malah sebaliknya, membuat banyak orang kecewa, benci, dan menimbulkan permusuhan?

Sumpah, ketika aku menulis ini, aku jadi kangen sama keluargaku. Dan kudengar Dian menangis di telpon.

Aku janji, aku pasti kembali kok!!

Ya Sudahlah

Cup, cup, sayang. saya tahu kamu sedang lapar. Jangan teriak-teriak lagi ya biar ga tambah lapar. Kita juga harus tahu diri, kita ini orang kecil. Mereka hanya punya dua telinga. Mereka tidak akan mendengarkan kita. Ah, sudahlah. Semua orang tahu kalau orang-orang pemerintahan kita itu tidak tahu diri. Mereka sudah lupa dengan pemilu kemarin. Bahwa mereka pernah mengemis minta dukungan. Biarkan mereka berfoya-foya di depan mata kita, toh kalau kita berteriak juga percuma. tidak akan pernah didengarkan. Hanya menghabiskan tenaga.

Kita juga pernah mendengar bahwa negara kita adalah salah satu penyandang gelar "terbodoh". Pantaslah, kalo untuk memberikan kesejahteraan buat rakyat mereka tidak bisa melakukannya. Mereka hanya bisa melakukan itu untuk dirinya sendiri. Untuk kepentingan pribadi. Cukup sudah, kita tidak bisa melawan. Ngapain lagi, mau apa? Kewajiban kita sebagai warga negara hanya punya KTP, selebihnya adalah urusan pribadi kita. Negara tidak wajib memberi kesejahteraan untuk rakyat. Pemerintah hanya mengawasi orang-orang yang dianggap sebagai teroris, orang kaya*untuk dikeruk kekayaannya* dan bukan kita, rakyat miskin. Mereka tidak perduli dengan warga yang miskin, perduli apa? Saudara bukan, kerabat juga bukan. Yang penting keluarga kenyang, yang lain......... hehehe cari duit sendiri-lah. Pekerjaan? Tidak perlu negara memberikan lahan pekerjaan, biar rakyat yang membuat lapangan pekerjaan sendiri. Pemerintahan "INDONESIA SEBAGAI PAJANGAN" biar pantas di sebut sebagai negara republik. Mereka memang pandai, pintar, lincah, tapi tidak berguna. Tidak heran kalau Aceh menginginkan kemerdekaan. Karena sebagai rakyat INDONESIA mereka merasa tidak merdeka. Ya, sudahlah, mereka tidak akan pernah merasa kehilangan sebelum semuanya hilang.

coba jika seluruh propinsi meminta kemerdekaannya, jawa, lombok, sumatra, kalimantan, madura, semuanya menginginkan kemerdekaan. Mungkin indonesia hanya tinggal jakarta, karena hanya jakarta yang mereka rawat, sehingga pemerintah indonesia harus mempunyai visa jika mau ke jawa, ke Bogor, ke Lombok. mereka tidak akan sadar dengan negara kesatuan sebelum kesatuan itu terancam. Ingat dengan sebuah pulau kecil yang menjadi rebutan INDONESIA-MALAYSIA kemarin. ya begitulah, serakah, sok mengakui padahal tidak diurus. Negara terkaya dengan sumber daya alamnya, bisa terkapar karena lapar. sangat menyedihkan!!!!

Bayi-bayi indonesia hanya diwarisi dengan tumpukan utang, kasian deh lo!!!

YA SUDAHLAH.............

Sebuah Kebingugan

Pada saat ulang tahun (hari kelahiran), orang-orang di sekitar selalu mengucapkan selamat. Ada pesta dengan segala pernak-perniknya, ada juga yang mengadakan syukuran, dengan mengadakan khataman al-qur'an misalnya, dan ada juga yang tidak dirayakan alias biasa-biasa saja. Sepi. Hari kelahiran ini tidak mesti dinisbatkan kepada manusia, ada yang karena hari kelahiran kucingnya, ada yang karena kelahiran anjingnya, tikusnya, atau organisasinya.

Entahlah, saya sendiri bingung. Padahal kalau dipikir-pikir, dengan sampainya kita pada hari kelahiran, semakin dekat pula hari kematian. Berapa lama sih umur manusia? Paling hanya seratus atau limaratus tahun. Itu dulu, sekarang, paling banter seratus tahun-an, dan itupun sangat amat langka dan jarang. Kalau ummat muslim, kalau mau mengikuti pemimpinnya, ya enampuluh tiga tahu itu. Ya, mungkin tidak jauh-jauh dari situ. Walaupun sebenarnya tidak ada yang tahu, kapan kematian itu akan menjemput, tapi setelah melihat frekuensi usia kematian rata-rata yang normal, ya segitu itu. Nah, sekarang kalau kita bicara kenyataan, anak-anak, pemuda juga banyak yang mati. Halah....kita lihat kematiannya dulu. Harus dijawab dulu pertanyaan semacam ini, normal ngga kematiannya? Jangan-jangan kematiannya itu karena bunuh diri, dibunuh, atau terbunuh. Nah, di sini, aku saya bingung lagi. Terus peran Tuhan itu ke mana ya? Bukankah Dia (saya tidak biasa mengganti Tuhan dengan Beliau, saya lebih suka Dia, bukan berarti saya ikut-ikutan lho) yang menentukan mati dan hidup makhluknya?

Dari situ, ubun-ubun kepala saya jadi penuh dengan pertanyaan yang sebenarnya sama sekali tidak berkualitas, dan pastinya akan diketawain oleh teman-teman saya yang pinternya di atas saya. Seumpanya, pertanyaannya begini: Benarkah saya akan tetap hidup seandainya orang tua saya tidak menikah? Apakah saya akan tetap terlahir ke Dunia walaupn orang tua saya tidak melakukan 'hubungan keluarga' itu?

Siapa coba yang bisa menjawab, tentunya dengan jawaban yang sederhana tapi mengena. Bukan hanya menjawab ceplas-ceplos kaya mengeongnya kucing. Mudah-mudahan saja ada yang mau menjawabnya.

Doaku bersama Kalian

Wednesday, December 13, 2006

Bersama Taher, saya sering berjalan bersama-sama. Bukan ingin bersama, tapi terpaksa bersama. Tapi, karena seringnya kami berjalan berdua, hingga teman-teman di sekitar kami ada yang nyeletuk “jeruk kok minum jeruk”. Saya tidak pernah memikirkan apa anggapan orang terhadap saya. Yang penting tidak ada perbuatan yang merugikan, saya tidak akan pernah menggubris. Nah, kebetulan yang nyeletuk itu adalah seorang cewek yang centil, saya pun membalas. “Melon kok makan melon,” Sebenarnya saya tidak bermaksud yang aneh-aneh. Hanya sebatas guyonan yang bagi saya memang tidak bermutu.

Diam-diam, Si Cewek tadi ternyata menyimpan maksud tertentu kepada Si Taher. Entahlah, pokoknya Si Cewek ini sangat perhatian kepada Taher. Saya pun merasa senang, karena setelah Si cewek sering berjalan bareng sama Taher, tidak lagi menggojlok-gojlok lagi. Hilang dengan sendirinya. Muangkin, gojlokan-gojlokan itu sudah basi, dan tentu saja sangat, amat tidak bermutu untuk digojlog-kan lagi.

Halah... manusia modern memang suka bersembunyi. Diam-diam tapi ada maksud yang dipendam. Tapi Si cewek ini, sungguh pintar dan sangat cerdik. Bersembunyi sambil bergerak, salut. Gerakannya seperti seekor ular yang bersembunyi di dalam pasir. Menggeliat-geliat mendekati mangsa. Dan tentu saja, mangsanya tidak pernah tahu kalau ular itu sudah berada di dekatnya. Hanya dalam sekejap, Si ular berhasil mematuk jantung mangsanya. Tergeletaklah mangsa itu. Tak berdaya. Bedanya, ular yang satu ini tidak sebahaya ular padang pasir. Ular ini adalah ular yang sangat pandai, cerdik, tapi tidak licik. Berani.

Karena kedua-duanya memang teman dekat saya, maka saya wajib mendukung keduanya. Kapan saja mereka akan melangsungkan hari bahagianya, saya harus siap melayani mereka berdua. Dosa, kalau sampai saya tidak melayani mereka. Mudah-mudahan saja bisa sampai pada jenjang yang oleh banyak kalangan dianggap ritual suci. Doaku bersama kalian.

Benarkah Kita Binatang Berakal

Kalau komputer ini hancur, mungkin orang-orang hanya akan diam saja. Karena mereka tidak ikut memiliki. Mungkin hanya aku saja yang akan merasa bingung setengah hidup. Entah apa yang akan aku perbaiki, ram-nya, VGA-nya, prosesor-nya, motherboard-nya, kipasnya, power supply-nya, atau bahkan yang tidak mungkin bisa aku periksa juga. Semisal monitornya, atau bahkan listriknya. Yang jelas usaha untuk memperbaiki itu pasti ada. Ya, rasa memiliki itu memang ajaib. Tapi terkadang, karena rasa memiliki juga bisa seenaknya menggunakan. Sehingga tidak ada sedikitpun rasa takut rusak, kecuali barang itu adalah barang baru.

Kalau kita melihat sejarah, berapakah usia Indonesia saat ini. Rasanya Indonesia, yang sudah turun temurun kita memiliki ini, tidak pernah kita rawat dengan baik. Sumber daya alam yang melimpah, sungai yang berserakan, tanah yang subur, dan juga laut yang berpotensi, merupakan sebuah nikmat yang selalu saja kita sia-siakan. Kita hanya bisa berteriak lantang jika ada orang lain mengaku-ngakuinya, bahwa “Itu milikku !!”

Tapi, kita tidak pernah tahu bahwa kita ini memang bodoh. Dan parahnya lagi, kita tidak pernah merasa bahwa kita ini memang bodoh. Bagaimana tidak, bangsa-bangsa eropa sangat tertegun melihat keindahan alam Indonesia kita tercinta. Banyak yang mereka inginkan, dan semuanya ada di Indonesia. Halah....Kenapa kita tidak pernah merasa bodoh, kenapa kita selalu merasa pintar dan pandai. Penyakit semacam ini memang tidak begitu tampak dan tidak terlalu berpengaruh –dalam kacamata kita yang gelap---. Tapi, manusia-manusia di luar Indonesia sungguh melihatnya dengan jelas. Mereka sudah tidak menggunakan kacamata lagi, yang mereka pakai adalah teropong yang bisa melihat benda-benda angkasa yang sungguh jauh jaraknya.

Hingga kadang-kadang terbersit pertanyaan, benarkah kita ini binatang berakal?

Sup Tulang Ayam

Malam-malam sekitar jam setengah sebelasan, saya masak bersama Bambang. Sebenarnya bukan karena lapar, tapi hanya karena ingin menikmati malam. Setelah kita berdua bersepakat, akhirnya langsung menuju dapur dan memulai memotong-motong wortel dan kentang. Sedangkan tugas saya memotong ayam yang hanya tinggal tulangnya saja. Setelah memotong tulang-tulang ayam, kemudian saya menghidupkan kompor dan merebus air. Bambang pun sibuk melembutkan bumbu-bumbu yang sudah diracik sedemikian rupa. Bawang merah, bawang putih, dan laos yang sudah dilembutkan kemudian dimasukkan ke panci yang sudah berisi air panas. Setelah mendidih, kemudian tulang-tulang ayam dimasukkan, wortel dan kentang juga dimasukkan. Setelah itu baru di taburi garam, maggi secukupnya, dan kalau ada ditambah sedikit vetsin. Setelah semuanya matang, kemudian kami panggil teman-teman yang lain untuk ikut makan bersama. Ada Afif, Imam, dan Haykal. Dan kami pun asyik makan Sup tulang ayam dengan variasi wortel dan kentang. Sederhana, tapi terasa.

Hidup, memang tidak jauh-jauh dari contoh-contoh yang teramat sederhana. Persis seperti ketika saya dan Bambang akan memasak Sup. Pada mulanya ada kesepakatan, semisal kesepakatan antara keluarga Si A dan keluarga Si B untuk menjodohkan Si A dan Si B. Dan kemudian, pada malam harinya, terjadilah kesepakatan ke dua. Dan pergumulan pun dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Hinggga terbilang hanya dalam beberapa bulan, terhitung sejak terjadinya pergumulan malam itu, Si Betina kemudian bunting. Dan tidak lama kemudian Si Betina melahirkan anak. Mulailah mereka hidup bertiga, berempat, berlima, bahkan ada yang sampai belasan. Si betina pun sibuk merawat, menyusi, memandikan, hingga me-cewok’i (membersihkan setelah buang air) anaknya. Tidak kalah sibuknya, Si Jantan memikirkan kesejahteraan keluarganya. Mencari nafkah dan memikirkan bagaimana nanti nasib anak-anaknya. Kemudian disekolahkannya anak-anaknya itu, agar mereka bisa hidup mandiri.

Setelah dewasa, anak-anak itu kemudian mulai mengenal lawan jenisnya. Mereka pun saling tertarik. Anak-anak muda biasa menyebutnya Cinta. Dan terjadilah sebuah hubungan yang kemudian diistilahkan dengan pacaran. Kemudian terjadilah kesepakan-kesepakatan baru. Dan begitulah seterusnya.

Hidup itu memang selalu berproses. Ada banyak hal yang sebenarnya kita tahu, tapi kita tidak pernah merasakannya. Tapi hidup, sesuatu yang tidak pernah kita tahu, kita merasakannya.

Melepas Kerinduan

Tuesday, December 12, 2006
Hari ini, aku seperti mendapatkan kejutan yang luar biasa. Aku dilempar dengan sebuah kotak merah bergambar jarum. Bukannya marah, malah aku kegirangan mendapatkan lemparan itu. Kotak ajaib itu memang sudah aku kangenin sejak lama. Udah pada tahu kan? Yang jelas di situ terpampang tulisan Djarum Super 12 kretek filter.

"Wah, edan tenan, rasane koyo ono nang Malang," komentar seorang teman ketika menghisap rokok itu. Dia aja sampai berkata seperti itu, apalagi aku, yang hampir setahun penuh belum merasakan nikmatnya Djarum Super(hiperbola dikit). Huahaha...Entahlah, kangenku sama negeri Indonesia jadi hilang seketika. padahal cuman karena sebatang rokok. Mboh, aku dewe yo ga ngerti.

Rokok ini memang rokok yang sangat dahsyat, makanya ketika aku di Malang, aku tidak membeli rokok lain selain Djarum Super dan Dji Sam Soe. Tapi ngga tau kenapa, aku lebih memilih Djarum Super ketimbang Sam Soe. Padahal harganya mahalan Sam Soe. Tapi kualitas rasanya, ngga usah dibanding-bandingin deh. Bagiku, Djarum Super is number one. Wes gak ono seng nyaingin. Hehehehe. Apalagi sekarang musimnya pas banget, Dingin-dingin ngopi, nge-say (teh), sambil ditemani Djarum Super, ngga nahan Men rasanya. Serasa ada di Puncak. Sorry nih, bukannya mo promosi, tapi hanya ingin mengungkapkan kerinduan terhadap kenikmatan sesuatu yang selama ini memang aku rindukan.

Kekesalan dan Kepuasan

Huh, sungguh menyebalkan. Keparat. Sungguh, Orang Mesir itu memang tidak berperasaan. Tadi pagi aku mengantarkan dua orang temanku untuk membuat kartu mahasiswa di Kuliah. Di kampus memang banyak yang sedang antri, mahasiswa dari berbagai negara pada antri untuk mengurus keperluan mereka. ada yang mengurus kartu, ada yang mengurus beasiswa, ada yang meminta surat keterangan, ada juga yang hanya ikut ngantri, tapi ngga ngapa-ngapain. Menyebalkan.

Satu-persatu orang di depan kami menyelesaikan urusan mereka. Tepat di depan saya ada orang berkebangsaan Somalia, orang Hitam (begitu kami menyebut orang-orang yang berkulit hitam legam). Ternyata orang ini ribut sama petugas, dia mempermasalahkan Kartu-nya yang belum jadi. "Minggu depan! InsyaAllah jadi," Petugas menjelaskan. Rupanya orang Somalia ini sudah tidak tahan dikibulin terus-terusan. Akhirnya, si Orang hitam inipun naik pitam. "Minggu depan, Minggu depan, Apa harus nunggu kiamat, baru dibikinin? Hah? Saya sudah sebulan ngurusin kartu, masa sampai sekarang masih belum jadi juga?" Sambil menuding-nuding, si Orang hitam ini membentak-bentak Petugas.


Kejadian ini sungguh menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa lain yang sedang mengurus urusan mereka. Semua orang memandang ke arahnya. akhirnya si petugas pergi ke dalam dan.... eng ing eng.... Ternyata si petugas tadi mengambil kartunya si orang hitam ini. "Lain kali kalau mau bohong pake perasaan ya," lanjut si orang hitam sambil meninggalkan antrian.


Nah, pas giliranku, Adzan pun berkumandang, dengan seenak perutnya si petugas bekata "Bukroh InsyaAllah!". Kata-kata yang bener-bener menyakitkan. bagaimana tidak, sudah antri tiga jam-an malah dibilangin bukroh. Saya pun mulai ikut-ikutan memaksa, tapi pintunya malah ditutup. Karena saya hanya ingin mengambil kartu, akhirnya aku lewat pintu belakang. saya ketuk pintu sedikit keras, si petugas pun membukanya. tapi dia tetap memaksa untuk tidak melayani saya. Akhirnya sayapun harus memutar otak untuk bisa merayu si petugas botak itu. saya ambil paspor, saya selipkan uang lima pound-an dan saya tunjukkan kepada si petugas. Eng....ing...eng...kontan saja mata si petugas langsung berbinar. "Mau apa kamu?" tanyanya mulai meramah. Saya pun menjawab, "mau mengambil kartu." Dia langsung masuk ke dalamdan mengambilkan kartu saya. Setelah kartu diberikan, sayapun bergegas pergi. Si petugas hanya terbengong saja. Dalam pikiran saya, Maling mo dimalingin? sialan. tanpa menghiraukan kebengongan si petugas saya pun melangkah puas. Alhamdulillah, saya bisa ngerjain orang yang suka ngerjain orang. Kacian Deh lu!!
-------------------------------------------------------------------------------------------
*bukroh = bahasa arab ammiyah Mesir yang berarti besok. (biasanya dipakai untuk besok yang tanpa batas, sedangkan kalau besok sungguhan biasanya memakai kata ghodan)

Bahasa Indonesia; Bahasa Gado-gado

Monday, December 04, 2006

Satu nusa satu bangsa dua "language". Sebuah judul yang *bagi saya* sangat menarik. karena ada embel-embel bahasa yang dianggap oleh banyak orang indonesia sebagai tolak ukur dari segi ilmunya. Sebenarnya, ketika saya membaca judul tersebut, saya menebak-nebak, bahwa isinya adalah fenomena yang sering kita lihat dalam kehidupan nyata. Bahwa orang yang bisa berbahasa inggris, atau gaya berbicaranya yang sedikit-sedikit dicampur inggris, tulisannya juga ada embel-embel Inggrisnya adalah orang yang pandai, orang yang cerdas dan tentu saja dikira sebagai orang yang berpendidikan tinggi. Dan ketika saya membaca artikel itu, tebakan saya ternyata benar. Dan artikel itu juga, saya menemukan sesuatu yang walaupun sebenarnya sudah usang, tapi bagi saya masih sangat baru. Yaitu hal bahasa Indonesia. Hal yang sering diucapkan oleh ahli bahasa *dalam hal ini bahasa Indonesia*, "Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar". Setelah membaca artikel tersebut, saya jadi aneh mendengar "yang baik dan benar". Karena, ternyata bahasa Indonesia itu berasal dari berbagai bahasa, bukan asli Indonesia. Sebagai contohnya, dalam teks Proklamasi yang kemudian dikeramatkan itu, ternyata semuanya berasal dari bahasa asing. satu nusa satu bangsa dua "language". Sebuah judul yang *bagi saya* sangat menarik. karena ada embel-embel bahasa yang dianggap oleh banyak orang indonesia sebagai tolak ukur dari segi ilmunya. Sebenarnya, ketika saya membaca judul tersebut, saya menebak-nebak, bahwa isinya adalah fenomena yang sering kita lihat dalam kehidupan nyata. Bahwa orang yang bisa berbahasa inggris, atau gaya berbicaranya yang sedikit-sedikit dicampur inggris, tulisannya juga ada embel-embel Inggrisnya adalah orang yang pandai, orang yang cerdas dan tentu saja dikira sebagai orang yang berpendidikan tinggi. Dan ketika saya membaca artikel itu, tebakan saya ternyata benar. Dan artikel itu juga, saya menemukan sesuatu yang walaupun sebenarnya sudah usang, tapi bagi saya masih sangat baru. Yaitu hal bahasa Indonesia. Hal yang sering diucapkan oleh ahli bahasa *dalam hal ini bahasa Indonesia*, "Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar". Setelah membaca artikel tersebut, saya jadi aneh mendengar "yang baik dan benar". Karena, ternyata bahasa Indonesia itu berasal dari berbagai bahasa, bukan asli Indonesia. Sebagai contohnya, dalam teks Proklamasi yang kemudian dikeramatkan itu, ternyata semuanya berasal dari bahasa asing. Dalam teks ini, kita bisa melihat bagaimana kata-kata bahasa asing dan bahasa daerah menyatu menjadi suatu bahasa tunggal ika yang terbuka, yaitu :

bahasa Belanda (Proklamasi=proclamatie, nama=naam), San sekerta (merdeka=mahardhika, bangsa=vamsa, cara, saksama, Sukarno) Campa (kami=gamiy), Jawa (nyata=nyoto), Sunda (kuasa=kawasa) portugis (atas=antes), Itali (tempo=tempo), Cina (singkat), arab (hal, hatta), Jerman (dan), Jepang (’05, kalender showa), latin (Agustus, kalender Masehi), Yunani (nesia=nesos)

Selanjutnya, saya ingin berusaha menyodorkan pertanyaan kepada masyarakat Indonesia seluruhnya, dan juga pertanyaan khusus kepada warga negara Indonesia di Mesir, Apakah Bersolek dengan bahasa asing (khususnya Inggris) itu adalah sebuah keharusan? Atau hanya pemanis, biar disebut orang yang punya kecerdasan tingkat tinggi saja?

Akhirnya, bagaimanapun juga, kita harus bangga dengan bahasa pemersatu kita, yaitu bahasa Indonesia.

*Terkadang aku juga sering melakukan kesalahan itu, mulai sekarang, mari kita saling mengingatkan*

Blognya Arema(Arek Malang) Mesir

Sunday, December 03, 2006
Tampilan blog Arema Mesir

Alhamdulillah, akhirnya blognya anak Malang yang sedang belajar di Mesir telah rampung. walaupun sebenarnya yang bikin juga sedang belajar. hehehehe.....Kan, yang penting bisa publish ke seluruh dunia....heheheehe. begitulah tampilannya. Alamatnya Http://www.aremamesir.tk

musyawarah Mufakat

Hehehee, baru saja mau menulis saya sudah senyam-senyum duluan, geli. Tau ngga kenapa?, karena kemarin ketika aku berkunjung ke rumahnya orang-orang tasi' (baca; Keluarga Cemara) bareng-bareng dengerin lagunya slank yang berjudul Cekal *udah pada tau kan?*.Nah, Lucunya, ketika sudah nyampe syair "...Musyawarah Mufakat ! Musyawarah Mufakat! Musyawarah Mufakat!.....", anak-anak pada ketawa semua. Terutama si Idris ama Si Anung. aku pun ikut ketawa, itupun bukan karena lagunya, tapi karena tingkah seisi rumah yang memaksa aku untuk tertawa. Si Amin yang sedang membantu ngoprek blognya Si Nadhief ketawa terkekeh-kekeh. dan kalimat 'Musyawarah Mufakat" itu langsung meroket menjadi kalimat yang paling sering disebut dalam sela-sela obrolan kami. Pokoknya, kalau udah nyampe 'Musyawarah Mufakat' tanpa dikomando, dengan serempak kita ketawa bareng. Huahahahaha.....

ini nih, sekalian aku tuliskan lirik lagunya

Cekal

Cekal dicekal
Kritik beda pendapat
Cekal dicekal
Dianggap biang rusuh
Kami juga punya ide
Kalian juga punya ide
Musyawarah mufakat 3X
Musyawarah untuk mufakat (bener nggak ?)

Cekal dicekal
Kebebasannya enggak bebas
Cekal dicekal
Soalnya *nggak jelas*
Kami juga punya tanggung jawab
Kalian nggak pelu curiga

Musyawarah mufakat 3X
Musyawarah untuk mufakat

Sebenarnya banyak cerita seru di sana, cuman aku ceritain nanti aja yah..!!

Kenapa Manusia tidak meng-Update Blog?

Saturday, December 02, 2006
Tidak ada salahnya orang ngeblog. Mau pake yang gratisan kek, atau mau pake yang bayar Kek, itu ngga jadi persoalan. Yang penting, blognya itu tidak mengecewakan, ya lazimnya diupdate terus gitu lho * Hehehehe, sambil ngelirik diri sendiri...*. Karena yang tersindir adalah diriku sendiri, sekarang aku mau mengungkapkan beberapa alasan, Kenapa sih orang-orang tidak upto date?

untuk menjawab itu, ada dua kelompok besar
kelompok satu adalah kelompok yang sudah konek Internet di rumah.
alasannya :

Pertama; karena sakit
kedua; males
ketiga; mendekati ujian
keempat; time out
kelima; mati listrik
keenam; tidur
ketujuh; mandi
kedelapan; masak
kesembilan; ngga pulang-pulang
kesepuluh; meninggal dunia
dan masih banyak alasan lainnya

kelompok kedua adalah kelompok yang tidak konek internet di rumahnya:

Pertama; karena sakit
kedua; males
ketiga; warnetnya jauh
keempat; ngga punya duit
kelima; belajar
keenam; bobo
ketujuh; kencan
kedelapan; ada acara
kesembilan; ngga ada warnet
kesepuluh; meninggal dunia
dan masih banyak alasan lainnya

kalo ada yang mo nambahin, disilahkan..hehehe