<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Aku kehilanganmu

Saturday, February 12, 2011

Kita pernah bertemu pada suatu sore yang redup. Aku masih ingat, waktu itu tanggal 4 november, di depan sebuah kampus megah. Kau datang berdua dengan saudara sepupumu.

Saat kau menghampiriku, aku tidak ingat apa-apa selain senyummu yang manis itu. Satu lagi, aku ingat benar, waktu itu, air mukamu tampak sangat gugup. Dan kau salah tingkah ketika sepupumu mohon izin untuk pulang lebih dulu. Antara iya dan tidak, kau merelakan sepupumu pulang. Dan tinggalah kita berdua saja.

Aku tahu waktu itu kau merasa sangat canggung. Mungkin kau merasa sedang berada di alam mimpi. Karena orang yang dahulu sangat kau benci, waktu itu berada di hadapanmu; berada di depan matamu. Dan dalam kondisi dan situasi yang berbeda. Aku pun begitu. Tapi aku tetap berusaha tenang. Kucoba mengusir gugupku dengan bertanya banyak hal kepadamu. Dan juga menawarkanmu untuk duduk di jok motor. Kau menolaknya. Aku menghormatimu.

Itulah pertemuan pertama kita. Ya pertemuan pertama kita. Pertemuan yang terjadi setelah sepuluh tahun saling mengenal. Dalam barisan puisimu, kau menamai pertemuan-pertemuan kita melalui kabel dan gelombang dengan ‘alam mayapada biru’. Karena sejatinya, kita memang tidak pernah bertemu secara fisik. Ah, mengingatnya, aku sering tersenyum-senyum sendiri. Mungkin lucu.

Setelah pertemuan itu, aku tidak tahu ada apa denganku. Aku merasa sangat merinduimu disaat kita saling berjauhan. Oh, rupanya aku sedang terjangkit virus cinta. Ya, aku mencintaimu. Dan aku ungkapkan segala rasa yang ada dalam diriku kepadamu. Dan aku sudah siap untuk semua jawabanmu. Kau terima atau tolak, aku akan menerimanya dengan lapang dada.

Subhanallah. Luar biasa, kau menjawab cintaku. Kau menerimanya dengan sepenuh hati. Dan kita pun mabuk asmara. Mabuk cinta. Lalu kita bersama-sama membuang semua logika. Kita berpikir praktis yang dilogis-logiskan.

Hubungan kita berlangsung cukup intim. Dan tentu saja, dengan latar belakang pendidikan yang kita miliki, kita tetap santun menjalin hubungan ini. Tak ada salaman, gandengan tangan, apalagi yang lebih dari itu. Dan kita pun saling mengenal dengan baik.

Tapi kini, semua itu hanyalah sejarah. Semua telah berakhir. Aku merasa sangat sedih. Dan aku ingin menyampaikan beberapa kata untukmu. Kau boleh mendengarkannya, boleh juga mengabaikannya.

Tersenyumalah saat kau mengingatku

Karena saat itu, aku sangat merindukanmu.

Menangislah saat kau merindukanku,

karena saat itu aku tidak ada di sampingmu.

Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu,

karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu

Karena aku telah berada di hatimu untuk selamanya.

Tak ada yang tersisa lagi untukku,

selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu.

Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta,

mata indah yang dahulu adalah milikku,

kini semuanya terasa jauh meninggalkanku.

Kehidupan terasa kosong tanpa keindahan

Hati, cinta dan rinduku adalah milikmu.

Cintamu tak kan pernah membebaskanku

Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain,

sedang sayap-sayapku telah patah karenamu

Cintamu akan tetap tinggal bersamaku

Hingga akhir hayatku.

Dan setelah kematian,

hingga tangan Tuhan akan menyatukan kita lagi.

Betapapun hati telah terpikat dengan sosok terang dalam kegelapan,

yang tengah menghidupkan sinar redupku,

namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya.

Aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu

Karena mereka tak tertandingi oleh sosok jiwa dalam dirimu

Kau tak pernah terganti

Bagai pecahan logam,

mengekalkan kesunyian,

kesendirian,

dan kesedihanku.

Kini, aku telah kehilanganmu.