<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Sebuah Pelajaran

Friday, March 30, 2007
"Hanya rasa cinta, atau marah, yang membuat orang melangkah maju"

Begitu menurut Sirikit Syah. Dan memang begitu adanya, orang kalau sedang terlibat pada suatu emosi, entah itu marah, cinta, atau apa saja cenderung untuk melakukan sesuatu. Entah itu jelek ataupun baik. Ya, salah satu jalan yang dirasa paling banyak dilakukan ketika emosi itu datang adalah menulis.

Ngelantur

Tuesday, March 27, 2007
Bagaimana ketika aku harus bercerita tentang negeri ini. Aku harus memulai dari mana saja, masih belum bisa. Karena aku memang bukanlah seorang pencerita yang mampu bercerita dengan baik. Aku hanya mampu bercerita dengan sederhana. Cerita yang biasa-biasa saja. Mungkin hanya sekedar menuangkan kegelisahan, kebosanan, dan berbagai gangguan jiwa lainnya. Ya, jiwaku memang sedang sakit. Jiwaku haus. Dan di saat seperti inilah kadang aku tidak bisa mengendalikan diriku. Out of control. "Bret..bret..," tiba-tiba saja aku mendengar suara kentut seorang kawan yang sedang tidur pulas. Kontan aku dan kawanku yang satu lagi langsung tertawa. aku tertawa terbahak-bahak, sedang kawanku tertawa biasa saja. Dan tiba-tiba saja jiwa yang sebelumnya sakit ini, tidak lagi terasa sakit. Betul, Gangguan jiwa itu bisa diatasi dengan tertawa. Ya, dengan tertawa jiwaku menjadi sehat.

Jangan remehkan perkara tertawa. Juga perkara kentut. Dalam ilmu kedokteran, tertawa itu sehat. Dan kentut juga sehat. Karena memang begitulah alamiahnya manusia. Orang tidak bisa kentut, tentu saja akan sakit, karena gas kotornya tidak keluar. Apalagi tertawa. Dengan tertawa, sel-sel yang diam akan tertarik, dan akan mengencang. Maka tidak bisa mungkir kalau orang bilang; Banyak tertawa, awet muda. Maka jangan heran kalau diam-diam melihat aku tertawa tanpa sebab. Karena aku ingin sehat.

Pada saat-saat seperti inilah yang akan membuat otakku segar, memoryku stabil, dan tentu saja mudah menangkap semua persoalan dengan baik, walaupun tidak sebagus yang diperkirakan. Seperti malam ini, malam-malam istimewa. Kami, mahasiswa Indonesia di Mesir atau yang biasa dipanggil sebagai Masisir ini kedatangan tamu istimewa. Ya, kami kedatangan dua tamu agung. Mereka itu adalah bapak alwi Syihab yang menjadi utusan khusus Presiden untuk timur tengah. Beliau adalah kakak kelasku, jauh sebelum aku kuliah di sini. Dan yang kedua adalah bapak yang kemarin menuai protes dari para jamaah haji Indonesia. Ya, beliau adalah bapak Maftuh Basyuni yang saat ini menjabat sebagai menteri agama. Dua tamu agung itu mengabarkan berita gembira buat Masisir. Pak Alwi Syihab menjanjikan untuk mencarikan beasiswa bagi alumni Al-Azhar untuk melanjutkan studynya ke negara barat. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi. Tidak mudah, juga tidak sulit. Syaratnya harus lulus Al-Azhar, dan Toefl-nya lebih dari 500. Beliau juga berpesan "Silahkan ditagih janji saya ini."

tamu yang kedua juga tidak kalah saing dalam mengambil hati Masisir. Kakak Kandung dari Bapak Muzammil ini menjanjikan akan menaikkan gaji temus yang semula $30 menjadi $50 per harinya. dan ada sesuatu yang baru yang disampaikan oleh alumni Ummul Quro mekkah ini, bahwa ia akan mengusahakan agar nantinya yang menjadi Temus bukan hanya untuk laki-laki saja. Beliau ingin memberikan kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam Temus ini. Benarkah ini bisa diwujudkan? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Curiga

Peperangan yang tanpa batas adalah memerangi waktu dan lupa. Maka hadirlah usaha melawan lupa yang di tulis oleh sahabat saya: Nadhief. Ya, saya sepakat sekali dengan sahabat saya ini. Bahwa untuk tidak lupa itu dibutuhkan usaha. Dan pantaslah orang yang berusaha untuk tidak lupa ini mendapatkan gelar sebagai pahlawan. Karena orang yang berusaha untuk tidak lupa inilah nantinya yang akan mengingatan kita semua. Bahwa kita pernah berpeluk mesra, bahwa kita pernah bertengkar, bahwa cinta itu memang buta, bahwa ilmu itu harus diajarkan, bahwa yang benar itu adalah benar, bahwa yang salah itu salah, bahwa kita ini manusia, dan bahwa-bahwa yang lainnya.

Para pahlawan datang, karena para pendongeng datang, begitu menurut Goenawan Mohamad dalam catatan pinggirnya yang berjudul Qin. Kemudian saya juga teringat dengan Kang Abik yang beberapa bulan lalu survey ke Mesir ini. menurut Kang Abik, bangsa yang besar adalah bangsa di mana banyak pendongengnya.

Ada sesuatu yang lucu terjadi. Ketika orang membaca Ayat-Ayat Cinta-nya kang Abik, mereka langsung percaya begitu saja. Dan mulailah ada keinginan untuk pergi ke negeri di mana setting dalam cerita itu; Mesir. Ketika sampai di Mesir, ia begitu tercengang. Ia menemui Bandaranya yang tidak rapi, administrasinya yang membosankan, kotor, dan memang benar-benar tidak sesuai dengan imajinasi sebelum ia berangkat. Kemudian ketika sampai di flat yang disewa, pertama-tama merasa biasa saja, kemudian keheranan, dan akhirnya ikut terbiasa. Yang jelas, kebiasaan yang yang ssaya ceritakan itu bukan kebiasaan yang menurut sebagian besar orang muslim baik. Kebiasaan yang saya maksud adalah kebiasaan menghabiskan ribuan menit di depan komputer dengan bermain game, chating, dan lain-lain. Kemuadian ada kebiasaan yang hampir sama dengan kebiasaan kelelawar atau kalong, yaitu mengubah malam menjadi siang, dan siang dijadikan malam. Ya jadinya tidurnya kalau siang aja, takut kena matahari, mungkin. Ketika memasuki masa kuliah, ia merasa tercengang, bahkan bukan hanya tercengang, tapi terkejut. "lho, kok bisnya ngga lewat-lewat?" Setelah mendapati bis, ia hatinya mengeluh, "sesak sekali, masak harus berdiri seperti ini terus?" Ya, pertanyaan demi pertanyaan akan terus bergulir. Dan entahlah, pertanyaan itu ia tujukan sama siapa, karena manusia-manusia yang berada di sekitarnya tidak ada yang menjawabnya.

Dan keanehan itu semakin ia rasakan ketika memasuki kampus. "Astaghfirullahal adhiem, Kok bisa kaya gitu antriannya, tidak bisa tertib sedikit apa?" dan ketika memasuki kela, "Lho, kok tidak ada mahasiswa yang asal Indonesianya? lho kok ...?" Ia mungkin sedikit menyesal karena telah mempercayai novel yang dikemas secara apik oleh Kang Abik itu. Dan tentu saja, namanya juga manusia, ketika menemukan dan bertatapan langsung dengan pencipta karya tersebut, ia langsung protes. Dan menuduh sang pencipta karya itu sebagai pembohong."Kenapa tidak sesuai dengan realita yang ada?" Hehehehe. Kalau saya, akan tertawa lebar sambil berguling-guling di tanah. LOL. laugh out of loud. Dan ternyata jawaban kang Abik ternyata cukup bijak. "Kita telah berhasil membohongi publik." Ya, iyalah. itu kan novel, sebuah karya yang tidak mesti, atau bahkan sangat jauh berbeda dengan alam nyata. Atau bahkan hayalan tingkat tinggi. Yang jadi pertanyaan, kenapa novel Harry potter tidak digugat, Superman, Batman, dan karya-karya yang lebih nyata tingkat pembohongannya lebih tinggi tidak digugat? Saya rasa kita punya hati untuk mengukur dan menilai sesuatu. Dan tentu saja, jangan mudah percaya dengan apa yang kamu lihat. Memang hidup ini harus selalu dicurigai.

Pena

Monday, March 26, 2007
Pena, sebuah benda yang sangat mungil. Kadang digantung di saku baju, di kantong celana, disematkan dalam lampiran buku, diselipkan diantara kertas, ditempatkan dalam tas, dipajang di meja kantor, atau berada di etalase toko. Pena adalah sebuah karya yang agung. Oleh karena itu, sepatutnya manusia berterima kasih atas karya yang sangat istimewa ini.

Saya jadi teringat dengan mitos yang sering diperdengarkan di tanah kelahiran saya. Bahwa seorang sunan Giri (salah satu dari walisongo atau sembilan wali) beperang melawan beberapa tentara majapahit hanya dengan melemparkan pena. Kemudian berputar-putarlah pena itu dan berubah menjadi keris. Dan larilah tentara majapahit itu terbirit-birit. Ada lagi kisah yang lebih menarik, bahwa bung Karno meraih pena di kantong baju M. Jusuf, yang duduk di sebelah kanannya. "Ya, ini saya tanda tangani untuk diserahkan pada Harto. Tapi kalau keadaan sudah aman, mandat kembalikan pada saya,". Ya, kisah ini adalah kisah Supersemar yang penuh misteri itu. Menurut cerita, bung karno saat itu sangat terpaksa menandatangani Supersemar. Karena ia ditodong dengan pistol FN-46 oleh Maraden pangabean yang didamingi oleh tiga jendral, yaitu M. Yusuf, Basuki Rahmat, dan Amir Machmud. Namun, kisah ini dibantah oleh M. Yusuf dan Pangabean sendiri.

Nah, setelah itu kita kembali kepada alam kita. Habit kita. Bahwa dalam setiap gerak-gerik kita sebagai mahasiswa, kita selalu mengantongi pena. entah itu hanya buat corat-coret, atau menjawab setiap pertanyaan dalam ujian, atau menanda tangani berkas, atau menulis surat buat pacar, atau juga yang lainnya. Entah sadar atau tidak, pena merupakan sebuah kebutuhan primer yang kadang-kadang terlupakan dalam agenda belanja kita.

Pernah seorang teman yang mengadu kepada saya tentang hilangnya pena yang ia miliki. Padahal ia membeli satu box yang berisi duapuluh batang pena. Dan semuanya raib entah ke mana. Ada juga yang bercerita tentang kebahagiaannya yang bisa menikmati detik-detik penghabisan tinta penanya. Karena sepanjang ia memiliki pena, tak ada satu pun pena yang ia bisa nikmati detik-detik terakhir habisnya tinta pena-nya. Dan yang menciptakan pena ini adalah orang yang paling banyak pahalanya.

Siapa yang salah?

Sunday, March 25, 2007
Aku dan Ari adalah dua pasang sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Di mana ada aku, di sana ada Ari. Begitu juga sebaliknya. Namun, akhir-akhir ini kita sudah tidak rukun lagi. Ada sebuah masalah yang membuat persahabatan kami sedikit renggang.

Hal ini bermula pada perjalanan di sebuah siang yang begitu panas. Perjalanan itu begitu melelahkan. karena waktu itu, Kairo hujan debu. Mukaku panas, dan saraf otakku tidak bisa bekerja dengan normal. Di saat seperti inilah, biasanya si Ari mulai rewel.

"Phie, mendingan kita ke rumah si paijo aja, kan di sana ada pendinginnya," rengek si Ari.

Aku hanya diam, malas menjawab.

"Ya, Phie, ya. Ayo kita ke rumah Paijo," si Ari memaksa.

Dan aku tetap tidak menjawab.

Si Ari mulai jengah melihat aku tidak merespon setiap ucapannya. Ia mulai mengambil perjatianku dengan cara lain. Kali ini ia tidak hanya mengajak aku secara lisan. Ia mulai mengganggu aku dengan mengguncang-guncang bahuku. Dan tentu saja aku sangat terganggu. aku tidak bisa menahan emosiku.

"Kamu tuh ngapain sih, Ri?" bentakku, mengagetkannya.

Tiba-tiba saja ia salah tingkah. dan melengos pergi. Aku tidak tahu, kenapa ia berbuat begitu. Ah, tapi aku tidak perduli.

Menurut kamu, siapa coba yang salah?

VJ Riyanti; Maria dalam Ayat-Ayat Cinta

Friday, March 23, 2007

Tahu kan gambar di samping? Yang sering nonton jomblo pasti donk kenal, kalau ngga kenal itu kebangetan. Ya, dialah pemeran Asri asem Manis yang diuber-uber oleh si Olip. Dalam jomblo, karakter gadis ini sok jual mahal, merasa paling cantik sedunia, dan tidak berperasaan terhadap laki-laki yang datang ingin me'nembak'nya. Namun, ternyata di dalam ceritanya Asri harus jatuh dalam pelukan Doni yang buaya darat. Dan tahu kan dalam ceritanya, Si Asri menyerahkan kegadisannya kepada Doni. Ih... Jijai banget. Lucu ya.

Nah, dalam dunia nyata, ternyata gadis yang menjadi kembang di dalam film jomblo ini mengaku kepincut sama Fedi Nuril [Garasi] (Tapi bukan aku yang wawancara, baca saja 'Pikiran Rakyat'). Kok bisa ya, bukankah dia sudah punya pacar (eit...bukan Doni lho ya).

Buat yang penasaran, khususnya bagi teman-teman yang ada di Mesir, ada kabar menarik. Karena ternyata mereka berdua (Fedi Nuril dan VJ Riyanti) akan bermain dalam film Ayat-Ayat Cinta. Film ini diangkat dari novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-zhirozy. Rencananya, Fedi Nuril akan memerankan sebagai Fachri, dan VJ Riyanti sebagai Maria.

Nah, buat 'Olip-Olip' yang penasaran, bisa deh entar ngambil-ngambil gambar dari jarak 500 meter. Hehehehehe. Kita tunggu saja, informasinya mereka akan berangkat ke Mesir pada April mendatang.

Aku Telah Mati

Thursday, March 15, 2007
Tahukah kau, aku kemarin mati dengan tenang. Tenang sekali. Iblis yang membantuku mati. Tapi aku sendiri tidak tahu, apakah Iblis itu benar-benar Iblis, atau hanya seorang malaikat yang berwajah Iblis.