<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Perjalanan

Wednesday, April 14, 2010
Malang - Sidoarjo - Bangil - Malang

Ada Banyak cerita. Tapi belum bisa cerita banyak.

Sebuah Cerita; Katanya Cinta

Monday, April 12, 2010
Dua orang sahabat sedang berada di warung kopi. Yang satu terlihat ngelamun, seperti sedang mendalami suatu permasalahan yang sangat serius. Sedang yang satunya lagi sedang asyik menikmati kepulan asap Dji Sam Soe-nya.

"apa yang akan kau lakukan jika suatu ketika nanti, cintamu membentur-bentur pada wilayah kekuasaan, kesakralan, kehormatan, dan administrasi negara yang berlipat-lipat, Nda?" tanya Odan kepada temannya,Kanda.

"Lho...lho, ga ada angin-ga ada hujan, tiba-tiba kamu nanyanya seperti itu, sebenarnya ada apa sih?" Kanda menjawab dengan raut wajahnya agak kebingungan.

Odan hanya tersenyum dengan tanpa melihat ke arah Kanda, "Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah menjawab pertanyaanku yang barusan"

"O...jadi ceritanya kamu sedang jatuh cinta, ya? terus cintamu itu yang membentur-bentur pada wilayah kekuasaan, kesakralan, kehormatan, dan administrasi kenegaraan yang berlipat-lipat, ya?"

Odan agak kesal, "Sudahlah, kamu tidak usah banyak bertanya. Jawab saja pertanyaanku itu!"

"Hehehe...baiklah..baiklah...Emang kalau orang sedang jatuh cinta itu jadi aneh. Tapi tidak apalah....Kalau menurut saya sih, Dan, Cinta itu patut diperjuangkan. Emang gimana sih ceritanya?"

"Diperjuangkan?"

"Iya"

"Bagaimana caranya?"

"Ya, itu dia. Ceritanya gimana dulu, baru saya bisa ngasih saran tentang cara."

"Ok. Begini, aku suka sama seseorang. Dia juga suka sama aku. Kami sama-sama gila cinta. Cuman sayangnya, kami dari kasta yang berbeda; simple-nya, darahku darah merah dan darah dia, biru. Pokoknya perbedaannya sangat mencolok, dan itu yang jadi persoalan"

"Tunggu...tunggu...maksud kamu darah biru itu apa?"

"Ya, ningrat, bangsawan, hartawan, keraton, priyayi, kyai, negarawan, atau apa saja yang besar-besar, yang tinggi-tinggi, yang hebat-hebat."

"Lho lhak enak toh?"

"Enak gundulmu iku!"

"Apanya yang jadi persoalan?"

"Keluarganya. Padahal aku dulu sudah menghentikan rasa gila ini. Tapi kemudian aku berubah pikiran, karena kita tidak pernah bisa meminta untuk dilahirkan dari golongan yang mana."

"Tuh, kamu lebih tau tentang itu"

"Ya, sudah. Sekarang jelaskan!" suara Odan yang memelas agak ditinggikan, sehingga terlihat seperti marah.

"Huh, kamu tuh ada-ada saja, Dan. Baiklah. Begini, kalau dia dari kalangan orang yang mengerti, biasanya pilihan menantu tidak mempengaruhi pada kelas-kelas tertentu. Yang menjadi pertimbangan adalah kadar keilmuan dan kemampuan kamu. Selesai. Kamu sendiri merasa pantas ga menjadi bagian dari keluarga dia?" Kanda mencoba berceramah semampunya.

"O ya? tahu darimana kamu? Kalau masalah pantas tidak pantas aku tidak faham. Yang aku tahu sekarang, aku mencintai dia dan dia mencintaiku. Tulus. Apa adanya. Alamiah saja"

"Ya...ya...ya...Kalau begitu selesailah urusan. Sama-sama suka, sama-sama cinta. Menikah saja. Selesai toh."

"Orang tuanya?"

"Jangan perdulikan, kan yang akan berumah tangga kalian, bukan orang tuanya"

"Gila! Kamu kira aku tidak beragama apa, kau ajari aku seperti itu?"

"Lho, apa hubungannya dengan agama?"

"Itu dia masalahnya, dalam ajaran agama kami, kami harus selalu tunduk patuh pada orang tua kami, dengan catatan orang tua kami tidak memerintahkan kami untuk musyrik kepada sang pencipta. Kamu masih muslim kan?"

"Hehehe..Ya iyalah...Aku masih muslim, masih santri. Aku faham itu. Tapi, kau juga harus sadar. Ini sudah bukan jamannya dijodoh-jodohkan, Dan. Jaman Siti Nurbaya sudah lewat."

"Iya, aku tahu itu. Tapi bukan berarti harus menentang orang tua, kan?"

"Ya, itu pilihan kamu. Kamu maunya gimana?"

"Aku?"

"Iya"

"Ya, kalau aku maunya, kami menikah, orang tuaku merestui, orangtuanya juga merestui."