<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d-8552764801363357580', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Resiko Nonton Bumi Manusia

Thursday, August 15, 2019
Entah kenapa akhirnya aku harus ngisi blog ini lagi. Itu tak lain karena semangat puluhan tahun lalu itu mendadak tumbuh setelah menonton film Bumi Manusia. Ya, novel yang sudah kubaca entah berapa kali itu, akhirnya diadaptasi ke layar lebar. Dan di hari pertama pemutarannya aku menontonnya.

Secara garis besar, film ini luar biasa. Saya rasa mas hanung telah bersusah payah untuk bisa mengemas film ini agar sebisa mungkin apa yang didalam buku tidak hilang. Buktinya, film ini berputar selama 3 jam. Hmmm... Walaupun pada akhirnya memang tetap saja akan berbeda rasa membaca dengan menonton.

Salut untuk para pemain yang telah memerankan tokoh dengan total. Iqbal yang Minke yang cool. Mawar yang Annelis yang lemah lembut. Dan lagi, Nyai Ontosoroh yang tegas dan berani. Ah, tidak pernah merasa rugi aku menyempatkan diri menontonnya di tengah malam. Espektasiku mungkin terlalu tinggi, tapi tetap saja film ini hebat. Layak ditonton. Sebuah perlawanan pada ketidak adilan. Kalaupun kalah, setidaknya sudah melakukan perlawanan.

Bumi Manusia adalah buku pertama dari tetralogi pulau buru. Lanjutkan ya, masih ada Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Selamat Menempuh Umur Baru

Wednesday, April 10, 2019
Apakah kamu masih bisa mendengarkan setiap kata yang terucap dari lisanku?
dan juga, apakah kamu masih membaca setiap huruf yang kutulis?

Ah, mungkin itu tidak terlalu penting untuk ditanyakan.

Karena baik kau tahu atau tidak, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan keluargamu

biarlah selembar tisu menjadi saksi yang bisu
atas panasnya darah di masa muda yang semu

waktu terus berdetak
dan kita harus terus melangkah
karena mengalah bukan berarti kalah

Wahai engkau yang sunyi
bermainlah dengan pelangi
agar hidupmu berwarna warni

Semangatlah,
dalam menjalani sisa usia yang segera punah
dan berbuat baiklah secara istiqamah
agar mendapat gelar Husnul Khatimah

Percayalah
Walaupun tanpa kue ulang tahun dengan lilinnya,
doaku selalu menyertaimu

satu ucapku,
Selamat menempuh umur baru
Semoga keberkahan selalu menyertaimu