<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Kairo Semrawut

Monday, February 25, 2008
Awal tahun 2008 adalah awal tahun yang paling buruk yang pernah saya temui selama saya tinggal di Kairo ini. Ya, kejadian demi kejadian, kekerasan demi kekerasan, kejahatan demi kejahatan muncul di mana-mana. Kairo dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Anda yang berada di Kairo terutama yang berada di daerah Nasr city harus berhati-hati. Bahkan harus sangat hati-hati. Karena kondisinya sekarang sudah tidak aman. Anda harus waspada. Di setiap pojok-pojok gang, atau bahkan di gang depan dekat jalan besar, yang sepi, banyak pelaku kejahatan yang sedang menunggu korbannya.

Anda harus benar-benar waspada, karena pelaku bukan hanya akan merampas harta benda anda, tapi lebih dari itu, kesehatan anda, atau bahkan nyawa anda. Sudah ada beberapa korban, tapi sampai detiik ini belum ada tindakan yang tegas dari pihak berwenang. Hanya satu dua pelaku saja yang tertangkap.

Daerah yang rawan adalah di daerah Nasr city bagian Hay asyir. Di mana banyak mahasiswa Indonesia bermukim. Pelakunya adalah warga Mesir dan orang kulit hitam yang entah berkebangsaan apa. Yang menjadi korban tentu saja orang-orang yang dianggap lemah. Dan itu adalah kita, orang indonesia, orang asia. Sebenarnya bukan Indonesia saja yang menjadi korban, Malaysia, Singapura, juga thiland juga pernah mengalaminya.

Jelek-jelekan saya mencoba menganalisa, kenapa bisa seganas ini kota Kairo.

Saya menemukan beberapa titik yang saya anggap memang sangat berpengaruh terhadap kondisi seperti ini. Kalau kita pergi ke pasar, kita akan merasakan betapa harga-harga sudah berada di ujung langit. Contoh yang paling tampak adalah harga telur, dulu kita bisa mendapatkan satu tobak telur hanya dengan enam atau tujuh pound saja. Tapi sekarang, kita harus merogoh 18 sampai 22 pound untuk mendapatkan satu tobak telur. Gila, kenaikannya tidak tanggung-tanggung, sampai titik 300%.

Posisi ini akan sangat menekan kaum yang berpenghasilan pas-pasan. Pekerjaan sulit didapat sementara perut harus diisi tiap hari. Ditambah lagi dengan isu, ingat ini hanya sekedar Isu ya.., 'Babe kite' atau sering kita sebut sebagai 'sang jenderal' wibawanya sudah mulai merosot di mata rakyat. Kursinya mulai digoyang-goyang, dan kerajaannya mulai gonjang-ganjing.Mungkin karena repot mengurusi masalah itu, sehingga beliau tidak terlalu memperhatikan keamanan warga negara lain. Mungkin akan lain ceritanya kalau orang Mesir yang menjadi korban. Hehehe.

Ada alasan lain, kenapa yang menjadi korban adalah kita, orang Indonesia, orang Asia. Ada seorang teman yang memberi alasan. Katanya, mereka (orang mesir, orang hitam) merasa benci kepada kita sebab sejak keberadaan kita di bumi ini, harga-harga semakin tidak terkendali. Para penjual semakin gila memasang harga karena kita tidak pernah menawar dalam membeli. Dan ini membuat mereka geram.

Semua itu, bukanlah harga mati. Hanya perkiraan-perkiraan saja. Bisa benar, dan sangat bisa untuk salah.

So, apa donk yang mesti kita lakuin?

Malaikat Jibril

Sunday, February 17, 2008
Hehehey......
Kamu itu mbok jangan sembrono. Iya, Rasul memang sudah sampai yang terakhir. Siapa yang tidak tahu kalau nabi Muhammad itu adalah rasul yang terakhir. Tapi jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, kalau tugas malaikat jibril telah berakhir.

"Trus, apa dia masih menyampaikan wahyu?"
"tidak tahu"
"Trus, kalau begitu malaikat Jibril ngapain"
"tidak tahu"
"Hahaha...kamu saja tidak tahu. Paling-paling jam segini ini malaikat Jibril sedang nongkrong di jalan menuju Surga. Sambil mulutnya mengepul-ngepulkan asap rokok no 1 di surga."
"Hush... jaga mulutmu"
"Aku lebih menjaga mulut daripada kamu"
"maksudmu?"
"Nah, itulah.... aku juga ga tahu"

Nafsu Berbuah Surga

Thursday, February 14, 2008
Tadi pagi, saya bertemu dengan kawan lama. Ia sudah menikah, dan sekarang istrinya sedang mengandung. Ia bercerita banyak. Tentang perjuangannya mendapatkan belahan jiwanya, tentang kekerasan hati mertuanya, dan sebagainya. Tapi ia punya satu komentar yang langsung mengalir dalam benang dendritku yang kemudian disampaikan ke otakku.

"Ternyata menikah itu enak, lho!"

Hehehe. Aku hanya tersenyum mendengar komentar itu. Dulu, aku pernah mendengar sebuah ceramah. Isinya sangat menggelitik.

Tidak ada nafsu yang bisa berbuah surga kecuali mendatangi istri.

Sekilas tampak konyol. Tapi, setelah dipikir-pikir, benar juga. Kalau anda belum sampai, coba saja pikirkan, apa yang telah anda pelajari. Terutama bagi anda yang beragama islam.

Sekarang, saya ingin bertanya pada anda. Tidak perduli anda lelaki atau perempuan. Apa yang anda inginkan setelah menikah?

Memang, lelaki dan perempuan itu berbeda. Tapi mereka punya kesamaan. Dan saya rasa, masing-masing dari kita sudah tahu itu.

Halah...opo iki??

Memaafkan

Monday, February 04, 2008
Pujilah Tuhanmu yang juga Tuhanku. Hanya Dia-lah yang pantas kau puji. Bukan aku.

Aku tidak bisa menemukan bahasa yang lebih halus dari kata kurang ajar atas pujianmu di sore itu. Aku tidak pantas mendapatkan pujian darimu. Yang pantas bagiku adalah sumpah serapah menjijikkan. Bukan karena apa, karena aku memang tidak pantas mendapatkan pujian. Apalagi pujian itu berasal dari lidahmu yang seharum surga itu. Aku peringatkan kepadamu "Jangan kotori lidahmu dengan memujiku".

Tapi aku sadar, mana bisa gadis sekalem dirimu menyumpah serapah. Kau yang selalu menghiasi bibirmu dengan al-qur'an dan hadits itu, hanya bisa mengucapkan kata-kata yang turun dari langit dan kalimat-kalimat beraroma surga.

Lalu, pada kesempatan yang sangat sempit ini, aku ingin mengakui bahwa aku memang picik dan licik. Aku terlalu gegabah menilaimu. Aku minta maaf.

Kau tidak perlu menghiraukan permintaan maafku. Itu hanya basa-basi bibirku saja. Dan kau menolak. Lalu kau sampaikan alasanmu memaafkanku "Kalau aku tidak memaafkanmu, berarti aku lebih besar dari Tuhanku yang juga Tuhanmu itu,"

Akhirnya. Aku mengaku kalah. Bukan menyerah.

Besok, kita mulai lagi sesuatu yang baru. Serius.

Tentang Orang2 di Kairo

Cukup banyak cerita. tapi tidak semuanya bisa diceritakan dengan baik. Bisa saja cerita-cerita itu malah bukan mencerahkan, tapi membuat kacau balau.

Tapi cerita yang ingin aku sampaikan ini, kurasa tidak akan membuatmu muntah karena mual mendengarnya. Juga tidak akan pening memikirkannya. Cerita ini cerita biasa; cerita tentang orang-orang di sini; di Kairo.

Ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di bumi kinanah ini, aku merasa sangat jengah. Lebih dari itu, aku merasa sangat benci dengan tingkah polah dan kepongahan kota ini. Sungguh teramat berat hidup di kota ini. Keras.

Paling tidak, aku punya beberapa alasan untuk membenci kota ini.

Pertama, semrawutnya lalu lintas yang selalu membuatku tidak tenang jika bepergian, walaupun hanya sebatas ke kampus. Dan tentu saja, alamat mobil lecet, dari mobil terbaru sampai yang paling kuno adalah pemandangan yang tidak aneh. Kalau terserempet, cukup katakan ma'alesy. Urusan beres.

Kedua, sistem administrasi yang masih mempertahankan gaya kuno. Manual. Jadi, urusan yang seharusnya selesai hanya dalam lima menit, bisa memakan sampai beberapa hari. Cukup untuk dijadikan alasan bahwa hal yang remeh temeh itu memang cukup merepotkan. Pemborosan waktu.

Ketiga, Perangai orang-orangnya yang senga' álias menyebalkan, membuat tensi darah selalu naik ke ubun-ubun kepala. Cuman, karena aku orang timur --bukan timur tengah--, jadinya aku berusaha untuk tetap bersabar.

Ya, cukup aku sebutkan tiga saja --bukankah kamu pernah bilang, bahwa banyak itu adalah lebih dari dua. Aku setuju denganmu. Lebih dari satu itu masih belum bisa dibilang banyak--, biar kamu setuju, bahwa memang banyak ketimpangan di kota ini. Dengan banyaknya tantangan yang membuatku tidak suka itu, aku mencari hal-hal yang bisa membuat aku betah tinggal di bumi seribu menara ini. Diantaranya adalah murahnya ilmu pengetahuan. Kuliah gratis, murahnya harga buku, dan murahnya berbagai fasilitas komunikasi.

Tapi aku tetap saja heran. Murahnya segala sesuatu, tidak menjadikan negara Piramida ini negara berkelas. Masih banyak pribumi yang masih hidup terlantar di tepi jalan.

Lalu aku berpikir dengan setengah keras. Lebih keras. Lebih keras lagi. Akhirnya aku menemukan jawaban.

Walau tidak semuanya, orang Mesir itu malas bekerja. Mereka hanya bangga dengan segala sesuatu yang telah diturunkan oleh generasi sebelumnya.

Sesuatu yang yang membuatku ngakak. Ada seseorang yang menuduhku sebagai pencuri, karena aku mendapatkan beasiswa dari Azhar. Menurutnya, aku adalah pencuri. Karena, merekalah yang seharusnya lebih berhak atas jerih payah bangsanya itu. Lho, aku jadi bingung sendiri. Aku tidak peduli.

Lalu ada lagi yang bilang, orang China itu perampok. Alasannya karena produknya banyak beredar di negerinya ini.

Fiuh...Wis embuh-kah...