<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Banca'an

Thursday, September 18, 2008
Kembali lagi. Ritual lagi. Memberikan nyawa pada sesuatu yang baru. Masih tetap dengan gaya lama. Tradisional. It's a climax of tradition.

Mimpi yang Bikin Bingung

Wednesday, September 10, 2008
Saya tidak tahu harus berkata apa. Hari ini aneh sekali. Dalam sehari, saya bermimpi sampai dua kali. Mimpi itu adalah dua mimpi yang sama. Pertama, waktu mau makan sahur. Waktu itu tidak ada orang yang membangunkan saya untuk makan sahur *ya iya lah, orang nasinya belum mateng*. Mimpi itulah yang membuat saya terbangun. Kudapati seluruh tubuh berpeluh; penuh keringat. Nafas saya tidak teratur. Dan tentu saja, untuk mengenali sekeliling, saya harus mengumpulkan nyawa dulu. baru setelah semuanya terkumpul saya sadar. SAURRR.

Yang kedua, di pagi harinya. Setelah sholat subuh, saya tidur lagi. Tidak ada ngaji, karena mata ngantuk banget. cuman dua jam tidurnya semalem, eh salah, sepagi. Saya mimpi lagi. Mimpi yang sama. Aneh.

Kemudian saya berjanji bahwa saya tidak akan tidur lagi *maksudnya hari itu*. Takut mimpi lagi. Takut sama lagi.

Sampe sekarang saya masih bingung, sebenarnya apa arti dari mimpi itu. Lebih bingung lagi, saya tidak bisa menceritakan mimpi itu. Entahlah. Aneh. Padahal saya sudah mencoba untuk menuliskannya. Tapi tetap saja nggak bisa.

Huh...Kepala Puyeng...Pening....Asem...

Karena di mimpi kedua itulah, saya jadi seperti orang kesurupan. Keringat mengucur dengan deras. Saya melihat teman saya tanpa berkedip, melotot tepatnya. Hingga akhirnya, ia menyadarkan saya. Membangunkan saya. Saya benar-benar tidak kuat. Gila. Saya langsung lari ke dapur. Minum. Tidak puasa. Mokel. Fyuhh...

Ya, Allah, ampuni saya, ya.

Rumah

Monday, September 08, 2008
Bagaimanapun keadaanmu
Selalu saja membuatku kangen
Tidak ada yang lebih setia darimu dalam menunggu
Atau bahkan tidak ada sama sekali yang menyamaimu
Maka inilah salamku
inilah ucapku

"Terima kasih telah menungguku"

Berontak

Aku berusaha menjauhi keramaian
hanya karena ingin menikmati kesendirian
lalu melakukan usaha dengan mengurung diri di dalam kamar
Tapi tetap saja, imajinasiku lari liar ke mana-mana
Batinku mengembara entah ke mana
padahal aku tidak ke mana-mana
masih di sini, di dalam kamar

Turbulence

Seorang perempuan dengan gegabah menghampiriku. Ditariknya tanganku dengan tanpa perasaan. Lalu aku membentaknya dengan lembut.

"Ih, kamu apa-apaan sih? kaya anak kecil aja"
"Kamu yang apa-apaan? Kamu ngapain kemarin ga datang? Janjinya mau datang"
"Sorry, deh. That is my mistake. Soalnya burung dan ikanku meninggal dunia"
"Innalillahi wainnalilahi rojiun. O ya?"
"Iya, makanya aku sedih banget, dan itu yang membuatku malas keluar rumah"
"Hmmm....Kamu yang sabar yah. I'm sorry to hear that"

Aku diam saja. Padahal dalam hati seneng banget, udah berhasil mengalihkan pembicaraan... Keadaan hening sejenak. Dan tiba-tiba suara pun meluncur dengan lancar dari mulut mungil si perempuan.

"Cause everybody's gotta die sometime, we fell apart. Let’s make a new start. Cause everybody's gotta die sometime. Yeah, But baby don't cry"

Aku hampir tidak bisa menunjukkan ekspresi apa-apa. Batinku ngakak nggak karuan. Pinter juga nih perempuan bikin-kata-kata. Sialan.

"Udah, deh. Nggak usah gombal gitu. Kamu kan cewek. Nggak baik ngegombalin cowok," pintaku memelas.

Tiba-tiba mukanya jadi asem, manis, asin...Hmmm, tapi kayanya banyakan asemnya deh. Jadinya ya gitu, mukanya kayak ditekuk-tekuk gitu deh.Hehehe.

"Yah, kamu gimana sih? Jadi cowok yang pengertian dong. Saya kan cewek yang selalu mengedepankan perasaan. Jadi, kalau kamu sedih, saya juga ikutan sedih."

"O, gitu ya?"
"iya"
"Wong yang meninggal burung sama ikan saya, kok. Bukan saya."
"Walaupun..."
"Trus..."
"Cappe deh"