<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Nakama?*

Friday, October 26, 2007
Kata Nakama ini saya temukan dalam sebuah serial kartun jepang berjudul "One Piece". Dalam film yang (saya tonton) menggunakan subtitle bahasa inggris ini, penonton diberi kebebasan untuk menerjemahkan arti sebuah ‘nakama’. Karena dalam film yang saya tonton, tidak diterjemahkan dalam subtitle, melainkan tetap di tulis sebagai "nakama".

Tapi, kalau boleh meraba-raba, menurut saya, nakama itu lebih dekat terjemahannya dengan kata sahabat. Namun, saya agak berkecil hati (maksudnya kurang sreg gitu loh), karena dalam bahasa jepang, ada kosakata khusus yang berarti sebagai sahabat. Dan kata itu sudah g cukup dikenal, yaitu Shin yuu. Kalau teman? Ada juga tuh. Apa coba? Tomodachi. Hehehe

Sulit juga ya. Tapi, menurut seorang teman dalam dunia maya, terjemahan yg paling tepat untuk nakama mungkin adalah comrade. yaitu teman dalam mengejar suatu hal. Teman senasib sepenanggungan. teman seperjuangan. teman dalam mewujudkan mimpi. jadi bukan hanya teman karena sekedar kita saling kenal atau saling tau nama (seperti friend atau tomodachi). Tapi rekan dalam mewujudkan suatu hal. Dalam hal ini yaitu menjadi kru bajak laut dan mengejar mimpi masing-masing. (yang belum nonton, coba deh ditonton). Hehehehe...sedikit promosi.

Dalam serial ini, ikatan antar nakama-nya lebih erat dari teman, sahabat atau bahkan keluarganya. Karena masing-masing kru-nya digambarkan sebagai yatim piatu. Maka dari itu, nakama yg digunakan dalam one piece ini tidak diterjemahkan dalam versi inggrisnya. Karena terlalu sulit untuk menerjemahkannya tanpa merubah makna.

*Dengan sedikit pengetahuan, dan informasi dari sahabat-sahabat maya.

Iya, Iya? Nggak, Iya, iya, Trus? O begitu

Monday, October 22, 2007
Wah, apa lagi ini? Judulnya aja bikin pusing. Kamu tidak usah berpikir macam-macam. Semua yang tertera dalam judul di atas itu adalah kata-kata yang mudah kita jumpai dalam kehidupan kita.

Iya: ya, iya-lah. Mau apa lagi kalau bukan iya. Yang biasa diungkapkan oleh orang sebagai tanda setuju, bertanya (biar kelihatan antusias), meyakinkan (itu tuh yang tiga kali iya), dan seterusnya.

Nggak: untuk menyatakan tidak setuju, menyangkal, bukan, dan seterusnya.

Trus: bertanya (biar dilanjutin), ya melanjutkan, apalagi, terusin, dan seterusnya.

O begitu: yang jelas ini adalah sebuah ungkapan bagi orang yang baru tahu sesuatu. Boleh-lah kamu ngasih yang lain. Yang jelas, seorang sahabatku pernah memberi informasi kepada saya, bahwa ia benci kalimat ini ketika ia sedang bercerita. Wah, terlalu kasar mungkin kalau aku bilang benci. Kurang suka atau tidak suka. Ya, begitu-lah kira-kira.

Nah, mari kita buka sebuah percakapan.

Assalamualaikum
Waalaikumsalam

Basa-basi dulu. Menanyakan keadaan, sedang dimana, lagi ngapain, dan lain sebagainya. Kemudian masuk kepada pembicaraan yang ingin disampaikan.

Aku pengen cerita nih, boleh ga?.
Boleh. Silahkan.

Didengerin ya.
Iya, mau cerita apa sih?

Itu, tentang kejadian kemarin
Emang ada apa kemarin?

Jadi kamu belum tahu?
Belum, emang ada apa?

Kemarin, sehabis acara di rumahnya Satria, aku kan pulangnya terakhiran.
Ya?

Nah, waktu nyeberang jalan, aku kaget setengah mati.
kenapa? Ada apa?

waktu itu kan ada mobil ngebut. Kenceng banget.
Iya, trus? Kamu ditabrak?

ya nggak-lah. Kalau ditabrak aku pasti mati.
Diserempet?

Nggak.
Trus? Gimana?

Aku hampir ditabrak.
O, begitu. Hampir doang, ya?

Hu..uh. Kamu tuh dengerin ga sih?
Iya, iya. Aku dengerin kok. Terus gimana?

Ya, ga gimana-gimana.
maksudnya?

Ga bermaksud.
Aih, maksudnya? Segitunya. Aku kan cuman bercanda.

Lho, emangnya kenapa? ga ada papa kok.
Ya, kalau ga ada apa-apa kok ga diterusin ceritanya.

Ya, udah. ceritanya sampai di situ aja.
Apa?

Nggak. Nggak jadi.
Tuh, kan.

Nggak ada siaran ulang
Kamu ngambek ya? maaf deh, maaf

Apa yang perlu dimaafkan? kamu nggak punya salah kok.
Iya, pokoknya aku minta maaf.

Maksa.
Iya

Ya, udah dimaafin. Puas?
Nggak.

Trus?
Iya, trus gimana.

Lupa.
Lupa?

Iya, lupa.
Jangan gitu dong....

Aku ga begitu. Aku begini, Wek.
Cape deh.

Mang capek ngomong sama kamu.
Lho, kok?

Lho, kok? ju..ga..
Ya udah, terserah kamu.

Terima kasih.
Kembali.

Kedua-duanya kemudian tertawa lepas. Lalu, kemudian? Wah. Aku juga tidak tahu, tuh.

Iya, Apa? Nggak, trus? O gitu. Bingung.

Hahahaha.

Sebelumnya, maaf. Ini bukan apa-apa. Tapi, kalau anda menganggap ini sebuah apa-apa juga tidak apa-apa. Lagian aku nulis ini karena suka-suka aja. Hehehehe

Maaf lagi. Aku nggak niat cengengesan kok. Pembukaan pertama yang aku buka dengan hahahaha itu, bukan berarti aku tertawa. Jangan berpikir setiap kalimat hahahaha itu tertawa. Sebaliknya, hahahaha diatas adalah gambaran orang yang sedang menangis. Kalau anda berkata, "Lho kok?" yo aku bisa langsung membalasnya dengan, "Lho kok?" juga.

Gendeng. Gila. Stress. Maunya apa sih?
Aku nggak mau apa-apa. Yang aku mau, anda jangan berpikir sempit. Menerjemahkan setiap tulisan dengan sesuatu yang sudah umum. Sudah banyak dipakai orang.

Iya, trus kamu maunya gimana?
Aku tidak mau gimana-gimana. Yang aku mau, anda jangan berpikir sempit. Itu saja. Masa kalimat sesederhana itu saja anda tidak mengerti sih?

Apa? Justru bukan kalimatnya yang tidak aku mengerti. Tapi jalan pikiran kamu itu.
Kenapa?

Ya, ribet aja cara berpikir kamu. Susah dimengerti.
Hahahaha (yang ini bener tertawa)

Kok tertawa?
lucu

Apa yang lucu?
kamu

Ngledek kamu.
Nggak

Trus?
Ya, nggak ngledek.

O, gitu. Jadi mau kamu setiap kata; setiap ekspresi itu dibolak-balik dalam menerjemahkannya. Kalau orang ngejek berarti memuji. Orang tertawa berarti menangis. Orang memberi berarti meminta. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Kalau begitu bukan terjemah donk. Tafsir?
Nggak. Siapa bilang begitu. Yang bilang begitu kan kamu.

Kamu itu maunya apa sih?
Kan aku udah bilang, aku tidak mau apa-apa. Yang aku mau, anda jangan berpikir sempit. Sudah berapa kali aku bilang begitu. anda masih begitu-begitu saja.

Kok, bahasanya pakai begitu-begitu terus?
Ya, karena anda sih begitu, Jadi saya memakai kalimat begitu juga.

Maksudnya?
Tidak bermaksud

Huh, bingung aku.
Hahahaha (ini juga tertawa).

Bingung.
Aku juga bingung.

Huh...
Huh...

Huh, Kah, yeh...
Tambah bingung.

Bapakmu Tolol

Sunday, October 07, 2007
Dua bocah kakak beradik sedang terlibat cek-cok. Tiba-tiba saja seorang yang lebih tua, --mungkin karena merasa lebih bermartabat-- menonjok adiknya yang tidak suka berkelahi. Si adik tidak melawan. Mempertahankan diri semampunya. Padahal seandainya melawan, pasti kakaknya itu tidak akan berdaya. Karena tubuh si adik yang lebih besar, lebih bugar, ditambah kemampuan kanuragan yang cukup. Dan si kakak, hanya mempunyai emosi lebih besar, umur yang lebih tua, serta kecerdasan yang seadanya. Untung.

Berita itu tersebar ke mana-mana. Hingga suatu hari, di sekolah.

"Bagaimana luka tonjokmu?"
"Habis"
"Terus, kakakmu gimana?"
"Tidak tahu"
"Lho, Bagaimana sih kamu?"
"Tidak tahu"
"Bagaimana tanggapan bapakmu?"
"Tidak tahu"
"Lho, kok bisa begitu"
"Lapor polisi"
"Apa? bapakmu lapor polisi?
"Iya"
"Kenapa harus lapor polisi?"
"Iya, kenapa harus lapor polisi"
"Iya?"
"Iya"
"Trus, bagaimana dengan polisi?"
"Gak ngerti"
"Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa?"
"Apa kata polisi?"
"Bapak diomelin"
"Apa katanya?"
"Bapak bodoh"
"Trus?"
"Bapak tolol"
"Trus?"
"IQ-nya rendah"
"Trus?"
"Tai kucing"
"Hahahaha....Ya, Iyalah, lagian masalah keluarga kok dibawa-bawa ke polisi. Padahal kamu dan kakakmu itu, kan, anaknya. Lagian jadi bapak itu, harusnya pinter bikin solusi, bukan hanya pinter bikin anak. Ya, ga?"
"Tidak tahu"
"Lho, ada apa denganmu?"
"Ia, masih bapakku"
"Bapak yang tolol"
"Apa?"
"Iya, bapakmu, kan tolol"
"Haa?"
"Bapakmu tolol"
"Plak..plok..beg..deg...jebret...prang....pyar...@#$#@..."