<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Kekerasan; Dibela?

Monday, August 27, 2007
Hari ini aku mendapatkan kabar yang sangat buruk. Propaganda. Fitnah. Para pelindung pelaku kekerasan menyebarkan propaganda dan fitnah. Wallahi, sakit hati ini ketika mendengar hal itu. Awalnya saya tidak percaya. Namun ketika melihat hal itu sendiri, dengan stempel resminya, saya kemudian berpikir keras agar tidak mengikutkan lembaga tersebut yang buruk. Tapi hasilnya? ternyata tidak bisa. Ya, KKS tidak berniat untuk segera menyelesaikan konflik secara tuntas.

Kemarin, penjelasan-penjelasan dari pihak mereka, aku kira hanya kesalahan orasi saja. Tapi sekarang telah terbukti, bahwa kekerasan telah dilindungi. Mereka menghalalkan cara kekerasan yang diperbuat oleh anggotanya.

Kemarin mereka mengatakan bahwa mereka tersinggung dengan pemberitaan di TëROBOSAN -sebuah media Mahasiswa di Kairo- yang terbukti tidak menyinggung siapa-siapa itu. Setelah itu mereka memukul. Dan kali ini, mereka ganti memutar balikkan fakta dengan menyebarkan fitnah kepada publik dengan cara menyebarkan selebaran. Seakan-akan, apa-apa yang dijelaskan oleh pihak TëROBOSAN waktu di konsuler tidak benar. seakan-akan apa yang dijelaskan oleh TëROBOSAN di konsuler kemarin adalah bohong. Lalu, apakah teman-teman TëROBOSAN akan melakukan tindakan yang sama dengan yang mereka lakukan. melabrak mereka dan memukuli mereka. Saya kira TëROBOSAN mempunyai otak yang cukup cerdas untuk tidak melakukan hal itu. Karena semua itu hanya akan memperpanjang masalah, bukan menyelesaikan masalah.

Kemudian saya akan berikrar pada diri saya sendiri, bahwa kekerasan memang harus dihapuskan dari bumi kinanah ini. Walaupun nyawa adalah taruhannya, saya tidak akan mundur selangkah pun. Boleh saya mati di sini, tapi dua ribuan mahasiswa yang lain akan segera membereskan masalah ini dengan cara mereka sendiri. Karena mereka telah membuktikan, bahwa melalui jalur birokrasi dan diplomasi ternyata hanya buang-buang waktu dan energi.

Saya hanya bisa berdoa, semoga semua itu tidak terjadi. Dan kita yang hidup di negeri seribu menara ini, akan merasa tentram dan aman. Lalu, perlukah kita membela kekerasan?

Bocah Indonesia Tembus Perguruan Tinggi di HK

Sabtu, 18 Agt 2007,
Berusia 9 Tahun, Lahir di Tiongkok, Besar di HK, SMA di Inggris

HONGKONG - Usianya baru sembilan tahun. Namun March Budiharjo, anak Indonesia kelahiran Tiongkok tengah berjuang masuk sebuah perguruan tinggi di Hongkong. Pendidikan tinggi itu segera dijalaninya setelah dia sukses menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Inggris. Bila lolos persyaratan masuk perguruan tinggi itu, March akan menjadi mahasiswa termuda di sana.

March adalah warga Indonesia yang lahir di Tiongkok tapi besar di Hongkong. Sebelumnya, dia menempuh pendidikan di sekolah khusus (semacam akselerasi) di Inggris selama dua tahun.

Tahun ini, dia menempuh ujian akhir (A-Level/advanced level) untuk menentukan kelulusannya. Juli lalu, hasil ujian tersebut keluar dan March dinyatakan lulus. Bahkan dia berhasil mendapat dua nilai A dalam pelajaran matematika dan satu nilai B untuk pelajaran statistik.

Kesuksesan March tidak hanya itu saja. Putra Tony Boedihardjo itu juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-Level. Ternyata, dia bisa lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut.

Kendati mencatat prestasi yang luar biasa, belum ada perguruan tinggi yang tertarik untuk menjadi tempat pendidikan lanjutan buatnya. Tony sendiri enggan menyebut universitas mana yang diinginkan anaknya. "Yang jelas, pilihan March hanya satu, kuliah. Dia tidak mungkin bekerja dan dia sudah menunjukkan kemampuannya dengan lolos dalam ujian A-level," tegasnya.

Setidaknya ada beberapa nama universitas yang menjadi incaran March. Yakni Hongkong Baptist University (HKBU), Hongkong University, dan Chinese University of Hongkong. Ketiga perguruan tingg itu tengah mempertimbangkan pendaftaran March layaknya calon mahasiswa biasa. Mereka juga menunggu hasil tes lanjutan yakni General Certificate of Secondary Education (GCSE) yang baru diumumkan pekan depan.

Wakil Rektor HKBU Fan Yiu-kwan mengatakan pihaknya harus berhati-hati dalam mempertimbangkan pendaftaran March. Selain sisi akademis, pihaknya harus memperhatikan usianya yang masih muda. "Jika universitas tidak benar-benar siap, perkembangan anak itu akan terpengaruh. Selain universitas, pihak lain harus mempertimbangkan bagaimana melatih anak yang berbakat seperti itu," lanjutnya lagi.

Sebelumnya, pemerintah Hongkong sudah menunjukkan perhatiannya terhadap pendidikan anak-anak yang jenius. Sejak 2001, mereka meluncurkan skema yang diberi nama Support Measures for the Exceptionally Gifted Students.

Hingga sekarang, sudah 6000 anak jenius yang menerima kursus tambahan di berbagai bidang. Hasilnya, mereka berhasil mencatatkan prestasi di berbagai kompetisi internasional. (xinhua/thestandard/any)


sumber : http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=299724

Kairo; Tahun 2007

Kairo 2007
Pedih mataku menyaksikan sejarah
Bising telingaku mendengar fitnah
Nyinyir hidungku mencium aroma darah

Kairo 2007
Seperti neraka dunia yang tak ingin pernah aku rasai
Seperti masa-masa kebodohan yang tak ingin pernah aku jalani
Seperti musibah yang tak ingin pernah aku alami

Kairo 2007
Peristiwa demi peristiwa terjadi
Kekerasan demi kekerasan merajai
Dan perang dingin menghantui

Kairo 2007
Kulihat lagi kepongahan penguasa
Kulihat sindikat berusaha
Mencari celah untuk leluasa

Kairo 2007
Masa munculnya pahlawan-pahlawan tanpa kuasa
Yang tertampar meja-meja penguasa
Dan tertawan oleh birokrasi yang ‘besok lusa’

Kairo 2007
Lima ribuan mahasiswa dibuat resah
Menanggung cinta yang tak basah
Dan mereka tertekan oleh pasrah

Lalu ke mana cinta yang kita agung-agungkan itu
Lalu ke mana lagu-lagu perdamaian yang kita dendang-dendangkan itu
Lalu ke mana doa-doa persatuan yang kita seru-serukan itu

Atau mungkin kita telah melupakannya
Mengenangnya sebagai sejarah yang maya
Dan kemudian kita sepakati untuk melupakannya

Kalau begitu, kita resmikan saja
Bahwa cinta harus dibalas dengan cinta
Bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan dan,
Kekerasan harus dibalas dengan kekerasan

Benarkah harus begitu?


*dibacakan dalam temu penyair Masisir*

Bongkar

Saturday, August 25, 2007
Kata bongkar itu sederhana. Bahkan sangat sederhana. namun, walau demikian sederhananya, orang harus melakukan beberapa kali olah pikir untuk melaksanakan kata itu.

Sebagai contoh: Pernah teman saya mempunyai peralatan elektronik berupa kamera digital. Waktu berlibur di pantai, dibawanya kamera itu. Lalu ia bermain-main dengan pasir pantai. Dan tanpa ia sadari, beberapa butir pasir masuk ke dalam lensa kameranya yang otomatis itu. Akhirnya, ngadatlah kamera teman saya itu. Lensanya tidak bisa terbuka. permasalahannya cukup sepele. Hanya karena beberapa butir pasir yang masuk ke ruang lensa. Kemudian bertanyalah teman saya itu kepada temannya:

"Bisa, ga, betulin ini?" Tanyanya sambil menunjukkan kameranya.

Dilihatnya Kamera itu oleh temannya. Diamat-amati. Lalu ia berkomentar

"Oo..ini cuman kemasukan pasir doang. Gampang ini mah."
"Kamu bisa betulin, tidak?" Teman saya bertanya serius.
"Ya tinggal di bongkar saja. Soalnya pasirnya sudah masuk ke dalam"
"Ya sudah, dibongkar saja," Teman saya yang punya kamera pasrah.

Rupanya temannya teman saya ini merasa bingung. Karena dia sudah bilang bahwa permasalahan itu gampang. Ya, Bicara memang gampang, tapi untuk prakteknya susah. Ia kebingungan, karena kamera itu model terbaru, dan baru beredar di pasaran. Ia berpikir keras, jangan-jangan malah semakin rusak nantinya. Dan temannya teman saya itu tidak mau ambil resiko. Daripada kamera itu semakin rusak, lebih baik tidak membongkarnya sama sekali. Dan kemudian ia merekomendasikan satu nama untuk membongkarnya. Ia sebut namaku. Rupanya, dulu aku pernah berjasa membetulkan kameranya yang rusak. Kontan saja temanku itu kaget. Ternyata temannya itu juga mengenal aku. Dan datanglah temanku kepadaku. Ia menemuiku sambil membawa kameranya yang masih koma itu.

Aku lihat-lihat sebentar. Aku amat-amati beberapa detik. Benar juga komentar temannya teman saya itu. Permasalahannya hanya beberapa butir pasir saja. Dan keputusannya memang harus dibongkar. Tapi saya sendiri agak ragu. Karena saya sendiri tidak punya alat untuk membukanya. Padahal kalau bisa dibuka beberapa centi saja, pasir-pasir itu akan berjatuhan dan selesai sudah permasalahannya. Habis perkara.

Nah, yang satu ini lain lagi perkaranya. Walaupun sama-sama bongkar-membongkar, tapi urusannya lain. Kredibilitas taruhannya. Bahkan lebih dari itu, nyawa taruhannya. Membongkar kasus yang belum terungkap. Siapa berani berkata? Siapa berani menulis?

Sebenarnya bukan itu pertanyaannya. Pertanyaan sesungguhnya adalah: siapa punya data? Siapa punya informasi? Mari kita bongkar.

Ketidak-Beresan KBRI Kairo

Rasanya baru kemarin ayahku memberikan ceramah, rasanya baru kemarin beliau menasehatiku, bahwa sebenarnya hidup ini adalah sebuah sandiwara. Ya, hidup yang kita jalani ini adalah sandiwara. Kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, amal-amal yang kita kumpulkan, dan ibadah-ibadah yang kita kerjakan adalah adegan-adegan dalam sandiwara itu sendiri.

Mungkin kita sengaja, atau bahkan tidak sengaja bertindak, berkata, dan semacamnya. Tapi karena tindakan-tindakan itulah, sandiwara yang maha alami ini menjadi alami se-alami-alaminya. Dan kemudian kita lupa atau bahkan melupakan, bahwa yang kita jalani ini adalah sandiwara. Dan kita buat rencana-rencana panjang. Lalu rencana-rencana itu kemudian kita susun dan kita sematkan dalam catatan-catatan ringan yang selanjutnya kita sebut sebagai skenario.

Setelah itu apa? Penghianatan. Ya, penghianatan terhadap kesepakatan untuk membuat sejarah yang lurus, penghianatan terhadap cinta, penghianatan terhadap rumus-rumus yang telah dispakati. Kemudian ketika ditanya "Kenapa ini bisa begini?", mereka akan menjawab dengan begitu ringannya. Seringan kapas, atau ada benda yang lebih ringan dari kapas.

"Karena kita terdesak."
"Karena tidak punya payung hukum."
"Karena bukan wewenang."

Lalu KBRI yang kita cintai itu, KBRI yang lembaga pemerintah itu tidak bisa melindungi rakyatnya. Lho kok bisa.

Sebenarnya saya sendiri itu malu. Lha buat apa permasalahan rumah tangga harus dibawa-bawa keluar. Bukannya itu malah membongkar aib sendiri.

"Maksudnya?"

Halah, hal yang mereka anggap permasalahan sepele itu, ternyata dilaporkan juga kepada amn daulah -state security- Mesir. Lalu apa kata mereka.

"Pemerintah kalian lemah sekali"
"Pemerintah kalian kok seperti itu ya"
"Pemerintah kalian......"

Huh, untungnya mereka tidak menyebutkan "Pemerintah kalian bodoh sekali" atau "Pemerintah kalian tai kucing". Sedikit, tapi nyelekit. Walaupun mereka mengatakatan demikian, saya tidak akan marah. Karena saya sendiri yakin bahwa di tubuh KBRI ada sesuatu yang tidak beres dan perlu dibereskan. Ada yang sesuatu yang tersembunyi dan pelu dibongkar. Maukah mereka berterus terang? Saya sendiri ragu.

Teori - Tindakan

Tuesday, August 07, 2007
Hampir saja aku terkecoh. Ingin mengikuti suara hati atau mengikuti nafsu. Sungguh, pada waktu itu emosiku bergejolak hebat. Bahkan aku tidak bisa menemukan kosakata yang tepat untuk mengungkapkan akan emosiku yang melonjak-lonjak waktu itu. Temanku bilang, suara hati itu tidak pernah berbohong. Ia juga bilang, bahwa kedudukan kecerdasan emosi itu lebih tinggi dari kecerdasan otak.

Buatku yang seorang biasa ini; yang biasanya biasa ini, tidak terlalu penting untuk memahami atau mengerti hal yang semacam itu. Karena bagi orang biasa seperti aku ini, pekerjaannya adalah bekerja. Tindakan. bukan teori.

Namun, kalau mau dicerna secara mendalam, teori yang disampaikan oleh temanku itu ada benarnya. Kenapa demikian?
Pertama, bahwa suara hati itu tidak pernah berbohong. Aku rasa, semua orang tidak akan menolaknya. Suara hati itu berasal dari relung hati yang paling dalam; dari dalam jiwa. Oleh karena itu, ia tidak akan pernah berbohong. Walaupun lisan berbohong, terkadang hati sering menolak dan kemudian mengirim sinyal kepada otak. Setelah otak menerima sinyal itulah, seluruh bagian dari tubuh kita akan mengalami efeknya. Dan bagian yang paling mudah dilihat perubahannya adalah bagian matanya. Sedangkan yang bisa dirasakan adalah debaran jantungnya yang berdetak lebih kencang dari semula.

kedua, Bahwa kedudukan kecerdasan emosi itu lebih tinggi dari kecerdasan otak. Aku belum tahu ini memang benar kedudukannya atau apanya. Yang jelas, bagiku kecerdasan emosi itulah yang membuat makhluk hidup semakin maju. Walaupun pada dasarnya, kecerdasan emosi tidak akan berjalan tanpa adanya kecerdasan otak. Nah lho?(makanya aku sendiri masih ragu dengan teori yang ke dua ini). Kemudian,(masih menurut aku) kecerdasan otak itu adalah inti dari semuanya. Emosi akan berjalan setelah mendapatkan sinyal dari otak. Betul ga ya?

Halah...Sebenarnya hidup itu simple saja. Melakukan apa yang bisa dilakukan. Namun, ketika kita ingin menjadi orang yang dianggap orang hebat, ada syarat yang harus dipenuhi. Apa itu? yaitu, berpikir sesuatu yang belum pernah dipikirkan orang lain. Juga melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain. iYo...opo ga...hah?

Aku dan Kamu

Friday, August 03, 2007
Kenapa manusia harus diciptakan berlainan jenis? Ada lelaki, ada juga perempuan. Kau pernah menjawab pertanyaan yang kau hitung tidak berat ini. Dengan mudahnya kau menjawab "Karena Tuhan ingin begini, jadilah begini." Dan dengan jawabanmu itu aku merasa menjadi orang yang pualing bloon sedunia. Jawabanmu itu singkat, padat dan bisa aku terima. Sumpah. Jawabanmu itu membuat aku sadar. Bahwa kehidupan di dunia ini memang sudah diatur sedemikian rupa. Ah...Sudahlah, semuanya itu tidak penting lagi. Aku tahu, manusia diciptakan tidak sempurna. Tapi bagiku, kau sungguh sempurna. Kau cerdas, manis, cantik, dan ......... Ah, banyak sekali untuk disebutkan. Tidak perlu aku sebutkan semuanya saja pipimu sudah memerah. Dan kalau seudah begitu, kau terlihat semakin manis; semakin cantik.

Dari dulu kita sudah berbeda. Aku lelaki, dan kau perempuan. Aku suka bermain perang-perangan, dan kau suka bermain boneka-bonekaan. Tapi kita sama dalam satu hal. Ya, aku dan kamu sama-sama egois. Selalu menyimpan masalah kita masing-masing. Aku tidak bercerita tentang masalahku, kamu pun juga begitu. Entahlah, aku tidak ingin melihat kau sedih mendengarkan masalahku. Mungkin karena aku terlalu sayang sama kamu.

Dan sampai saat ini, aku sama sekali belum tahu alasanmu yang tidak mau menceritakan masalahmu kepadaku. Aku tidak tahu, apakah kau memang tidak pernah punya masalah atau hanya karena kau merasa tidak aman denganku. Ah..biarlah semua itu berlalu. Lagian, setiap kita bertemu, kulihat kau selalu riang. Selalu tersenyum ketika mata kita saling beradu. Selalu saja kau memasang wajah manismu ketika wajah kita saling berhadapan. Dan aku curiga. Jangan-jangan kau hanya memaksakan diri untuk tersenyum kepadaku. Diam-diam, dengan wajah menunduk aku melirik ke arahmu. Kau juga melirik ke arahku. Mata kita bertemu, dan pecahlah senyummu. Sedang senyumku tertahan. Dan kemudian pecah juga ketika melihat senyummu yang bertambah manis itu. Dan senyummu semakin menjadi. Dan kau semakin manis.

Lama-lama aku semakin tertarik untuk selalu memandangmu dan kemudian memujimu. Aku tahu, kamu perempuan. Dan karenanya, kau pantas kupuji. Kupuji karena kelembutan hatimu yang sejuk itu. Kemudian aku bermimpi. Bermimpi tentang aku dan dirimu yang menjadi orang tua. Kau menggendong bayi kita, aku menuntun anak kita yang baru enam tahun. Bersama-sama menjalani hidup yang semakin gelisah ini. Kemudian setelah aku terbangun dari mimpi, aku bertanya pada diri sendiri, juga kepada Tuhan. Mungkinkah mimpi itu menjadi kenyataan. Dan kemuadian pertanyaan itu bercabang lagi, mungkinkah kita akan tetap bersama. Sampai nanti. Sampai nanti. Selamanya. Sampai salah satu diantara kita menutup mata. Dan jawabanmu yang dulu pernah kau ucapkan padaku itu yang mungkin bisa menjawabnya. "Kalau Tuhan ingin, maka jadilah."

Sungguh, aku tidak ingin bermimpi. Aku ingin nyata.