<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Dongeng Ajisaka

Wednesday, May 23, 2007
(Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka.Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan.Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. klawan punggawane, Dora, tumeka ing Medhangkamulan. Heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu, yang bunyinya adalah sebagai berikut:)

ha na ca ra ka

da ta sa wa la

pa dha ja ya nya

ma ga ba tha nga


sumber : http://www.geocities.com/sesotya_pita/carakan/ajisaka.htm

Kabar dari Malang (Radar Malang JP)

Saturday, May 19, 2007
Jumat, 18 Mei 2007
Melihat Produksi Rokok Sin, Rokok Terapi Buatan Pesantren Sehat, Lawang

Rokok Dibuat bagi Yang Ingin Berhenti Merokok
Di tengah gonjang-ganjing pembekuan pabrik rokok (PR) di Malang, ada satu produsen rokok yang cukup unik. Jika umumnya rokok adalah musuh utama bagi yang ingin memiliki gaya hidup sehat, namun rokok yang diproduksi Pesantren Sehat di Lawang ini justru sebaliknya. Rokok yang dibuat melalui PR UD Putra Bintang Timur ini mengajak konsumennya untuk sehat.

MARDI SAMPURNO, Malang

Bagi Anda yang gemar merokok dan ingin berhenti merokok, alangkah baiknya mencoba produk Rokok Sin yang diproduksi oleh pesantren di Perum Guru Kalianyar Permai C1 Sidodadi, Kecamatan Lawang, ini. Empat varian rokok yang dibuat pendirinya yang juga seorang ahli terapi kesehatan KH Abdul Malik ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan aneka macam penyakit.

Konon, puluhan penyakit bisa diobati dengan menggunakan media rokok yang dibuatnya sejak 2 Mei 2005 lalu. Tidak hanya dengan menghisap rokok saja efek penyembuhan bisa dilakukan. Tapi juga abu dari rokok juga bisa dimanfaatkan sebagai obat luar penderita sakit eksim (gatal-gatal).

M. Diponegoro, salah satu santri Kiai Malik, mengatakan, jika menghisap rokok ini penyakit yang bisa diobati antara lain paru-paru, asma, flu polip/sinusitis ringan, impotensi, jantung, darah tinggi, bahkan kecanduan narkoba dan minuman keras. "Banyak penyakit yang bisa diobati. Mulai dari penyakit musiman hingga penyakit akut yang sulit disembuhkan seperti kecanduan narkoba dan AIDS," ungkap pria yang akrab disapa Dipo ini.

Dipo mengatakan, dalam ramuan rokok ini ada 17 jenis ramuan obat-obatan yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit di atas. Jenis ramuan itu, tambah Dipo, bisa menetralkan kandungan tar dan nikotin yang ada dalam rokok pada umumnya. Ramuan itu dihasilkan dari sejumlah bahan alamiah yang terbebas dari bahan kimiawi. Seperti daun sirih, kayu siwak, dan madu.

Ramuan ini dicampur dengan tembakau pilihan dan diproses ulang hingga menghasilkan cita rasa serta manfaat untuk media penyembuhan banyak penyakit. Untuk uji benar tidaknya ramuan tersebut bisa menatralisir zat beracun itu, pesantren ini telah mengujicobakan ke laboratorium kimia di Unibraw, Universitas Negeri Malang (UM), dan sebuah perusahaan nasional di Malang. Hasilnya, kadar nikotin rokok ini sangat rendah. Bahkan dinyatakan mendekati 0 persen.

Tentang pengaruh rokok untuk menghentikan seorang perokok berat berhenti merokok, Dipo mengatakan, rokok Sin ini akan merusak cita rasa awal yang ada dalam benak si perokok. "Jika usai mengonsumsi rokok ini dan kembali merokok merek lain yang sebelumnya telah digandrungi, maka perokok ini akan merasakan hambar. Akibatnya, dia mau tidak mau akan merokok Sin," paparnya.

Nah, saat merokok Sin ini, perokok juga tidak akan berlangsung lama. Sebab, perokok Sin akan bosan karena memang tidak ada cita rasa yang diinginkan.

Ada sensasi berbeda jika kali pertama merasakan rokok ini. Misalnya pusing, mual, batuk, dan sesaat badan terasa sakit. "Efek ini terjadi karena asap rokok yang terhisap sedang menghancurkan racun di saluran pernafasan dan tubuh. Peredaran darah akan bertambah lancar," ujar Dipo.

Efek itu, lanjut Dipo, tidak akan berlangsung lama. Hanya sesaat dan kondisi yang dirasakan akan bertambah segar. Terlebih dibantu dengan aroma rokok yang bisa memberikan efek aroma terapi terhadap kesegaran tubuh.

Usaha yang dikembangkan dengan manajemen islami ini tidak neko-neko. Usaha dikembangkan tidak untuk mematok keuntungan, namun mempertimbangkan sisi amal dan kemaslahatan umat. "Ustad tidak menggebu-gebu memperbanyak pekerja atau memperluas pasar. Kami pasrah dan minta petunjuk Allah," katanya.

Dalam kurun waktu Mei-Desember 2006, pesantren ini telah memproduksi rokok sebanyak Rp 1,4 juta batang. Melihat kemajuan usaha rokok terapi itu, sambung Dipo, membuat banyak bank yang menawari pinjaman modal usaha. Namun Kiai Malik secara tegas menolak tawaran itu dan memilih berkembang apa adanya.

Sementara wujud amaliahnya, PR sengaja menyisakan 35 persen keuntungan bersih dari usaha ini untuk disumbangkan ke panti asuhan. Sisanya baru untuk kepentingan produksi dan membeli pita cukai.

Untuk memproduksi rokok sebanyak itu, pesantren ini mempekerjakan 15 pekerja pelinting rokok dan enam staf yang mengurusi pemasaran dan distribusi ke sejumlah agen di Malang, Madura, dan Bali. Rata-rata mereka adalah warga sekitar dan para santri.

Usaha ini tidak memiliki tenaga penjualan yang gerilya ke pelosok-pelosok daerah untuk memasarkan produknya. Orang yang ingin memasarkan rokok merek ini adalah mantan pasien Kiai Malik yang pernah berobat. Setelah mereka sembuh, pasien ini dengan kerelaan hati memasarkan rokok produksi pesantren. (*)

Maafkan saya

Wednesday, May 09, 2007
Buat
Waktu yang saya hormati
maafkan saya
yang tak lagi bisa menghargaimu

hanya ocehan
juga omong kosong
yang dapat aku persembahkan

Jujur itu Pahit

"Kalau Aborsi legal, bagaimana menurutmu?"
"Wah, masak sih. Enak dong,"
"Apanya yang enak?"
"ya, ga perlu khawatir kalo kebobolan"
"maksud kamu, kamu pernah kebobolan?"
"Ehmm...sama kamu ga pernah,"
"Berarti kamu pernah sama orang lain?"
"Umm...Ngga juga. Aku kan setia sama kamu. mana mungkin aku melakukan sama orang lain"
"Bener...nih...?"
"Iya bener. Mang kalau aku pernah kenapa?"
"Ya, ga papa. Pengen tahu aja"
"Maksudnya?"
"Ya ga papa. Jangan diulangi aja"
"Iya, aku emang pernah. Tapi sekarang udah ngga mau lagi selain sama kamu"
"Apa? Dasar perempuan tidak tahu diuntung. Ya sudah, kita putus aja"
"@#$#@........."

Sial. Ternyata ketika ingin berbuat jujur, berusaha untuk jujur, ingin kembali baik, kembali sadar, menjadi hilang. Kejadian yang telah berlalu menjadi masalah baru. Apakah nilai sejarah juga begitu adanya? Bagaimana dengan Adam? Apakah kita perlu menggugat Adam dan melaknat Hawa?