<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d5858505070084369910', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Learning English

Tuesday, November 14, 2006
Question from Yukiazb in Japan:Dear Sir,
I'm a 63 year old man learning English in Japan. I'll be glad if you would let me know the differences in meaning of the following sentences: 1) I'll see you tomorrow; 2) I'm going to see you tomorrow; 3) I'm seeing you tomorrow; 4) I'll be seeing you tomorrow
Thank you - future forms

Answer:
Gareth Rees: Well, thank you very much for this question and indeed, talking about the future in English is not straightforward, partly because we don't have one specific future tense.
You have asked about four forms which are often confused - and they are often confused because they are, in fact, confusing! They are confusing because the differences between these forms are not fixed or absolute. Sometimes all four forms might be suitable for a situation. Today, I'll talk about each form individually.
Now, remember that the context for these sentences seems to be social or work plans for tomorrow.
The first example: 'I'll see you tomorrow.' - This is 'will' + the infinitive. We use this form when we speak at the same time that we make a decision about the future plan. For example: 'When can you give me an answer?' 'Well, I'll see you tomorrow. Is that okay?'
Now, the second example: 'I'm going to see you tomorrow' - This is 'to be going to' + the infinitive. We use this form when we have made the decision and plan before we speak. We are telling someone what we have already decided or agreed to do.
Look at these two examples to compare the first two forms:
1. 'They say the weather will be nice tomorrow' 'Really? Oh well, in that case, I think I'll go to the beach'
2. 'They say the weather will be nice tomorrow' 'I know - I checked the news yesterday. I'm going to go to the beach. Would you like to come?'
So, you can see the difference between these two forms. In the first one, the decision is made at the time of speaking. In the second one, the decision was made earlier; the plan has been made.
Now, the third form: 'I'm seeing you tomorrow' - This is the present continuous with a future meaning. We use it to talk about definite plans and arrangements. Things have been decided already, and arrangements have been made. As you can see, this is very similar in use to 'to be going to'.
Importantly, we generally use the present continuous when we are thinking about a particular time in the future. And it is commonly used to talk about social plans and meetings. On a Friday at work, the most common question is probably: 'What are you doing this weekend?'
Finally, the last form: "I'll be seeing you tomorrow." - This is 'will' + the continuous infinitive. We use this form when we want to bring some of the meaning of the continuous form to our description of future events.
The continuous form emphasises that an activity is happening at a certain time, and this activity lasts for a limited period of time. This meaning is now combined with one meaning of 'will' - namely that 'will' can describe future facts or predictions.
So, if you want to describe a future event and you want to emphasis the activity that will take place over time of this event, you say: 'At this time tomorrow, I'll be swimming in the sea. No more work for me - I'm on holiday!'
I hope this helps you understand these four forms a little better. Remember that 'to be going to' and the present continuous both suggest that plans have been made already. 'Will' is used for spontaneous decisions and 'will be doing' emphasises the action at a particular time in the future.
Anyway, time to finish. I'm meeting my boss in an hour and I haven't read the report yet!
if you want to listen the answer, klik here

Madura yang Katanya Singset Oriented*

Saya teramat senang bisa membaca tulisan yang berjudul "From Sumenep to Singset Oriented" yang di kirim oleh Nop. Saya tidak tahu siapa Nop ini. Yang jelas, saya mendapatkan artikel itu dari teman saya yang tinggal di Gami' (nama sebuah daerah di Kampung Sepuluh Kota Nasr, Kairo, Mesir). Tulisan itu sangat menggelitik jemari saya untuk kemudian menulisnya dan sedikit menambahan, mengurangi, merubah dan juga sedikit mengoreksinya. Begini kira-kira hasilnya. Kalau tidak puas jangan marah, saya bukan pemuas!!! :D

Sudah diakui umum bahwa Madura lebih modern, lebih efesien, dan lebih memahami ilmu hemat, dibanding manusia modern sebelah mana pun di muka bumi ini. Setidak-tidaknya dalam soal-soal yang menyangkut tubuh kaum wanita. Bukankah legenda tentang seks wanita Madura hanya bisa ditandingi oleh sangat sedikit etnik lain? Kalau tidak percaya, boleh anda mendatangi daerah yang sering orang menyebutnya pulau garam ini.

Kaum perempuan Madura, yang dibesarkan oleh kekeringan dan kekerasan lingkungan, bukan saja pakar jejamuan yang singset-oriented, ngerti kan? Bukan saja sejak dari sono-nya memang dianugerahi katuranggan alias natural behavior yang istimewa di bidang seks. Bukan saja teknokrasi dan teknologi seksnya yang canggih, akan tetapi juga karena filosofi dan moralitas seksnya yang luhur, sehingga lahirlah etos carok (ribut a laa madura).

Lebih dari itu kebudayaan Madura telah matang untuk menyadari betapa wanita harus dihemat. Unsur-unsur wanita harus dihemat. Unsur-unsur wanita ada juga yang boleh go public, tapi ada yang hanya boleh go husband. Jangankan ada yang menyentuh, memandang saja pun sebaiknya--sikat! Clurit (senjata Khas Madura, berbentuk setengah lingkaran) ! Carok!

Apa? Anti kekerasan? Non-Violence strunggle?Apa maksud Ente?

Mengucurnya darah dari badan tidaklah begitu berarti dibanding suatu bentuk kekejaman dan kekerasan nilai yang merontokkan harkat kemanusiaan. Apakah Ente lebih mengidentifikasikan diri ke 'badan manusia' dibanding 'kemanusiaan'-nya? Bukankah kematian tubuh seorang pahlawan bisa kita relakan asalkan demi kehidupan dan kejayaan nilai kebenaran yang diyakini?

Manusia disebut manusia karena kehormatannya. Kalau ada lelaki nguthak-uthek onderdil istri, yang terhina bukan hanya kehormatan istri atau wanita itu sendiri. Tapi sudah merupakan kehormatan Sang suami yang bertugas sebagai pelindung dan pengawal istri. Kalau kehormatan sudah direnggut, nilainya sama dengan kematian. So, carok itu sekedar mekanisme yang melaksanakan pemenuhan nilai kematian.

Makanya di Pulau Madura jarang ada perkosaan. Secara tradisional berlangsung kontrol moral sosial yang sangat ketat, dan itu pasti lebih baik dibanding komune seks bebas yang dibangga-banggakan oleh peradaban modern. Beda dengan di wilayah-wilayah Jawa, misalnya. Banyak terjadi tindak pemerkosaan, bahkan kepada mereka yang masih jauh dibawah umur. Bukan hanya di kota-kota besar modern atau sering disebut metropolitan, tapi justru di kampung, wilayah kabupaten, kecamatan atau desa. Lho, apakah masyarakat metropolitan lebih bermoral sehingga angka perkosaan rendah? Tidak. Di kota-kota besar perkosaan lelaki atas wanita tak perlu banyak terjadi, karena hubungan seks bisa dilakukan tanpa paksaan.

Segala infrastruktur sosial ekonomi dan sosial budaya untuk demokrasi seks telah tersedia. 'Rekanan bisnis' tak terlalu sukar dicari, uang untuk nyewa motel ada, jenis-jenis kamar sewaan juga semakin canggih saja.

Bahkan para pemilik modernitas telah pula menyiapkan dalih-dalih nilai yang luar biasa luhurnya untuk membela kebebasan dan hak asasi manusia, termasuk hak asasi manusia untuk menjadi hewan. Untuk apa memperkosa wong suami-istri buta huruf tentang di mana istrinya siang ini berada, juga istri-istri capek menyelediki apa yang dilakukan suaminya.

Beda dengan para lelaki di daerah agraris atau sub-urban, terutama yang tidak surplus ekonominya. Mereka diguyur iming-iming konsumtifisme seks yang sama dahsyatnya dengan yang menimpa lapisan masyarakat di atasnya yang punya duit dan nilai "demokrasi bagian yang enak-enak". Tapi fasilitas yang mereka punya tidak sama. Jadi ya terpaksa yang mereka punya tidak sama. Jadi ya terpaksa menyelenggarakan perkosaan, kalau cenggur-nya ('ngaceng nganggur'-nya) kelamaan. Hehehehe, Istilah apaan ya? Pokoknya begitu deh.

Kota-kota besar, masyarakat modern, peradaban metropolitan, telah mempelopori kesamarataan, globalisasi dan distribusi. Barang-barang kaum wanita yang sebenarnya bersifat privat, malah dipamerkan di etalase toko, bahkan menjadi andalan komoditi utama sejumlah koran kuning.

Bagaimana sih sebenarnya konsep privacy manusia dan kebudayaan modern? Padahal pemuda Sumenep itu bertahan lima tahun penuh untuk tidak seserpih pun menyingkap kain atau rok si gadis idaman yang toh kelak akan menjadi bagian dari privacy-nya. Lima tahun! Lima kali 365 hari! Berapa jam itu? Berapa menit? Berapa detik? Hitunglah sendiri! Padahal jika kita memasuki atmosfer nafsu seks di depan bayangan aurat perempuan, menunggu lima menit saja pun serasa berhari-hari sengsara dalam keputus asa-an.

Tapi pemuda Sumenep ini mempertahankan dengan penuh disiplin. Ya demi moral, demi akhlak, demi tidak dosa, demi sirik, tetapi juga sangat penting adalah supaya ia tidak mengalami rasa jenuh pasar terhadap si perawan.

Ia memahami betul kapitalisme kenikmatan seks. Ia mengerti ilmu berhemat atas aurat wanita. Kalau dibuka-buka sejak sekarang, kalau diusap-usap tiap malam minggu, kalau didusel-dusel kapan saja sempat: Kadar kenikmatan akan menurun drastis. Rasa penasaran, getaran-getaran esoterik, akan melorot tak ketulungan. Wanita menjadi murah harganya. Menjadi koden dan kacangan.

Padahal kalau dihemat, setiap pori-pori tubuh sang kekasih adalah surga. Setiap sentimeter kulitnya adalah telaga yang menakjubkan. Pemuda Sumenep ini bertahan sekian lama agar percintaan dan kemesraannya tidak mengalami prematur ejakulasi. Bukanlah anak-anak muda yang pacaran dengan cara menghabiskan jatah kenikmatan suami-istri sesungguhnya. Yang sedang merancang suatu ejakulasi dini yang karbitan secara psikologis maupun biologis?

Saksikanlah, betapa dahsyatnya bulan madu malam pertama kisah From Sumenep with Love ini. Lima tahun si pemuda menahan diri. Prestasi tertingginya hanyalah memegang tangan si perawan, itupun dengan sangat gemetar dan ketakutan --betapa nikmatnya ketakutan!-- Tanyakan kepada semua pakar, bahwa dalam hal berpacaran, sepanjang menyangkut konteks biologis, ketakutan jauh lebih afdhol dibanding keberanian.

Memang jangan lantas membayangkan Madura adalah semacam "Pulau Santri" di mana segala-galanya serba steril dari maksiat. Tapi yang penting pemuda Sumenep ini jangan sekali-sekali dibayangkan pernah nonton bareng, kencan malam minggu, apalagi SH alias saba hotel.
Fantasi dan imajinasi saja. Lima tahun penuh fantasi dan imajinasi saja. Sehingga ketika malam bulan madu tiba, jebol-lah dam itu! Tetapi si Sumenep cukup dingin. ia nikmati istrinya sedikit demi sedikit dan amat perlahan-lahan. Diinstruksikannya sang istri untuk membebaskan diri dari pakaiannya. Sekali lagi, sedikit demi sedikit dan amat perlahan-lahan. Slow motion.
Kemudian sesudah 'demokrasi dan keterbukaan' sempurna, ia sutradarai sang istri untuk melakukan gerak keindahan. Seindah-indahnya.

Ibarat lakon sandiwara, ini eksposisi. Baru kemudian memulai adegan konflik. Ia pandangi tubuh istrinya dengan penuh kekhusukan. Sedikit demi sedikit dan amat perlahan-lahan. Dari ujung rambutnya, keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, lehernya, kemudian melompat-lompat sampai lengkap. Sampai akhirnya ia berhenti di 'pusat kebudayaan', yang lucu bentuknya dan misterius perangainya. Si Sumenep mungkin membayangkan hendak berburu di kedalaman hutan belantara yang ekosistemnya masih amat perawan dan terpelihara itu. Sungguh kenikmatan yang tidak akan pernah tertandingi.

Wajahnya menegang, sorot matanya menjadi aneh, dan tiba-tiba saja satu tangannya menepuk 'pusat kebudayaan' itu sambil bergumam, "Alaa! Kayak gini aja harus nunggu lima tahun!". Masih belum percaya? Boleh di coba kok. Siapa ya orang Sumenep? Jangan-jangan dia lagi GR nih baca tulisan ini.
-------------------------------------------------------------
* Enta kapan saya menulis ini, saya sudah lupa tanggalnya. Yang jelas tulisan ini sudah saya posting di blog saya multiply beberapa bulan yang lalu. hehehehehe

Melihat Dunia dari Secangkir Teh*

Sunday, November 12, 2006

Hari ini aku menemukan sebuah buku menarik, karya Cak Emha Ainun Najib. Ketika aku lihat buku itu, langsung saja aku baca sampai tuntas. Hehehehe. Bagiku, buku itu cukup menarik untuk dibaca. Apalagi buat kita yang jebolan, atau pernah njebol pesantren. Asyik juga, ini saya postingin sepotong buat kamu. Selamat membaca.

Kita bisa belajar kapan saja, dimana saja, nggak usah jauh-jauh, teh misalnya, anda minum teh, tapi gagasan anda tentang teh tidak ada perkembangan. Ya...sama saja. Sampai kapan pun anda berpendapat bahwa teh itu kecoklat-coklatan, dimasukkan gula dan dimasukkan airnya. Tidak....! Tidak hanya itu saja, harus ada perkembangan. Kalau anda mau berfikir, melaui teh anda bisa melihat dunia.


Sewaktu melihat teh, Anda terngat pertanian teh, berapa manusia yang nasibnya sama dengan petani teh, sistem pemerintah dalam menangani teh, monopoli pemerintah tentang teh, Anda teringat Tomi lalu menjualnya Mas Yanto. Dia termasuk tingkat yang mana dalam ekonomi masyarakat kita, berapa jumlahnya orang yang sama nasibnya dengan Mas Yanto, dan seterusnya. Itu saja sudah cukup. Jangan berhayal ingin menemui Ali Yafie, Nur Cholis Majid, Amien Rais dan Jamaluddin Rahmat. Boleh menemui mereka hanya sebagai jendela, sedangkan kuncinya ada pada diri anda.

Engga' usah bicara tentang dunia pemikiran. Sekali lagi ngga' usah, sebab anda diseret oleh para psikolog kota, berfikir yang ngga'-ngga'. Kalau anda menemukan santri itu relegiusitas, Do it, i'mal, i'mal, i'mal. Nanti di tengah nada "Ta'malu Syai'an", nanti dibutuhkan pemikiran. O...kita harus berpikir tentang ini, O.....saya harus bikin motor sendiri, kalau begitu saya harus mengembangkan pemikiran tentang ban, tentang busi, listrik dan sebagainya.


Jadi pemikiran itu hanya diperlukan sebagai 'thoriqoh' dari amal atau sebagai alat dari amal anda, jangan serius-serius berfikir, ngga' ada angin ngga' ada hujan kok berfikir. Kenapa?!....Yang penting, anda kerjakan apa yang jelas, di tengah pekerjaan anda, anda pasti dituntut untuk berfikir, Nah itu yang dinamakan pemikiran. Jadi jangan ngga' ada angin ngga' ada hujan ngga' ada angin ribut, tiba-tiba anda menyusun pemikiran. Apa itu? nanti anda berani ngomong ini itu, ngomong tentang arab saudi, Pakistan, Komunisme yang jatuh. Post modernisme, ngapain...?? Itu semua nanti akan anda perlukan, kalau memang ada kebutuhannya dalam 'amaliyah' Anda, gitu lho. jadi jangan dibalik.

"Milikilah pandangan "mendalam", sampai ketika Anda memandang secangkir teh, Anda mampu menembus wujud real dari teh itu"

--------------------------------------------------------

*Judul buku Emha Ainun Najib yang diterbitkan oleh Warta Mingguan Darussalam Pos

Bingung, Nulis aja agh

Tuesday, November 07, 2006
Entahlah. Tanganku seperti gatal kalau tidak menulis. Aku ingin menulis apa saja yang berkeliaran di kepalaku. Sungguh, aku sangat tersiksa jika memaksakan diri untuk tidak menulis. Aneh, mau memejamkan mata sulitnya minta ampun. Apa aku sudah kecanduan menulis?? Padahal kualitas menulisku tidak lebih dari anak yang baru belajar di sekolah dasar *bahkan lebih jelek dari itu. Ih, jadi malu aku* Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Biar saja orang mengejekku. Aku akan mengambil kritik-kritiknya saja sebagai pembangun semangat belajarku agar lebih baik. “mengkritik itu boleh asal membangun” , saya lupa puisi siapa itu.

Sebenarnya aku bingung mau menuliskan apa, tanganku bergerak sendiri. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikannya. “aku tidak mau kau jadikan bantalmu”, rasanya sudah tidak tahan. Ia berontak, karena hanya aku jadikan sebagai bantal. Bahkan pernah kejatuhan air liurku *Hi...Jijai banget*

Ehm, sekarang aku terusin lagi deh. Aku mo cerita tentang suatu tempat yang tidak begitu istimewa. Tempatnya lumayan jauh, Doki. Perjalanannya pun juga lumayan. Cukup puas untuk bisa tidur *soalnya jalanannya juga macet. Jadi tambah asyik mendengkur..hehehe* :-P. Aku berangkatnya dari rab’ah, naik tramko menuju Ramsis. Setelah itu masuk ke stasiun kereta bawah tanah *Metro –begitu orang Mesir menyebutnya-* bagiku, tempat ini luar biasa. Karena di Indonesia ngga ada yang kaya beginian. *kapan ya indonesia bisa bikin kereta bawah tanah? –sambil banyak berharap-* Aih..., lanjutt...Di sini ada kejadian seru (waktu beli tiket). Tapi ga perlu aku ceritain, ya. Biar ceritanya buat aku sendiri aja. Kapan-kapan kalau sudah waktunya, baru aku mau cerita. :D. Dan aku pun turun ke lantai paling bawah *lho?? Iya, walupun dibawah tanah, di sini juga ada tingkatnya. Luar biasa bukan??* nah, kemudian aku naik kereta. Di dalam kereta, aku ga kebagian tempat duduk *hik..hik...sedih*. Akhirnya aku naik kereta sambil berdiri. Duh...pegal juga nih kaki. Dari Ramsis sampai Doki ngga dapet-dapt tempat duduk. Yang ada malah semakin ramai orang masuk kereta ini. Udara semakin panas. Bau keringat benar-benar tidak tertahankan. Kita semua saling berebut oksigen.

Taratta....akhirnya nyampe juga di Doki. Kami menyusuri jalan menuju tempat yang kami tuju. Lho kok kami sih? *iya, soalnya waktu itu bukan aku saja, ada dua orang temanku lagi*. Rasa capek kemudian hilang ketika kami sampai di tempat tujuan. Tempat ini memang bukan tempat yang istimewa. Hanya sebuah toko peralatan sekolah dan pernak-pernik. Di dalamnya juga disediakan jasa fotokopi. Nah, inilah sebenarnya yang kami tuju. Namun, hari ini tidak seperti biasanya. Baru sekarang ini aku melihat toko ini sesak dengan banyak calon pembeli. Dan semuanya adalah perempuan. Gila aja. Gimana ngga grogi...semuanya perempuan, standart Mesir. Perhatianku adalah pada cara berpakaian mereka. Lucu. Ada yang bergaya artis dengan sepatu koboi, tapi berkerudung, ada yang berpakaian serba hitam dan juga mmakai cadar, ada juga yang memakai kerudung tapi tidak sampai dadanya, ada juga yang tidak memakai kerudung dengan rok pendek dibawah lutut *seperti pakaian pegawai ngeri di Indonesia*, tapi yang paling banyak adalah perempuan bercelana jeans, berkaos ketat dengan memakai kerudung. Hehehe.

Menurutku budaya berbusana di Mesir itu sangat unik. Karena semuanya hanya setengah-setengah. Setengah syariat, setengahnya lagi mode. Unik bukan? Modenya pun mengikuti gaya Eropa. Tapi, menjelang musim dingin, semua manusia di Mesir ini berpakaian tertutup. Dengan Jaket tebal, celana ‘monyet’ –sebutan saya untuk celana hangat, celana panjang yang tebal sebagai ‘rangkepan’—memakai shal, dan juga penutup kepala. Sudah jarang saya melihat oang-orang memakai sandal. Rata-rata sudah memakai sepatu. Biasa-lah, Manusia kan punya naluri untuk beradaptasi dengan lingkungan. Tapi menjelang musim panas nanti *setelah ditinggal musim dingin*, semuanya akan kembali berubah. Kita lihat saja nanti.

Sorry kalau ngga nyambung, soalnya aku nulis ngga pake konsep, draft atau apa saja. Aku menulis dengan spontanitas aja. Yang penting terus menulis. Kecuali kalau menulis makalah atau artikel untuk diprsentasikan, baru aku serius nulisnya. Hehehehe. Matur Nuwun.

Aku Masih Ingin Hidup

Entahlah, rasanya aku ingin kembali bersemangat. Musim dingin ini benar-benar membuat saya seperti orang linglung. Badan saya selalu mendadak panas ketika menjelang malam hari. Iseng-iseng aku memungut kembali puisiku yang pernah aku posting di milist penyair.

Aku masih Ingin Hidup

kulihat 'waktu' telah sekarat
tak lagi berdetak
Ah aku tidak perduli
aku masih ingin hidup
melebihi umur sang 'waktu'

Jika ternyata hidup itu adalah palsu , aku tetap ingin mengarunginya.
Dan aku tidak akan perduli, Aku Ingin hidup selamanya.
Bersama cita yang tak kuminati ini.

----------------------------------------------------------------------------
Semangat ya. Mudah-mudahan semua yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang memuaskan. Jangan lupa, pada akhirnya kita akan pergi. Hanya jejak-jejak kita yang akan mereka baca. Rugi lho kalau menunggu kematian hanya dengan berdiam diri. Tunggulah kematian dengan aktifitas. Bukankah pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu?

Teruslah Menulis

Dulu waktu saya masih di bangku SD, pelajaran yang paling saya benci adalah pelajaran mengarang. saya tidak bisa mengarang. cuman saya memang berani untuk menulis walaupun saya tidak tahu. di situ ada gambar, saya disuruh mengarang dan disesuaikan dengan ilustrasi gambar. wah, karena saya melihat ada gambar ayam, saya menuliskan kata ayam pada awal kalimatnya. kemudian saya disitu ada anak kecil yang memberi makan. akhirnya saya pun menuliskan. Ayam. ini ayam, ayam diberi makan oleh anak kecil. kalimat itu saya bolak-balik sampai kertas jawaban penuh. huahahahahaha. saya tidak tahu, akhirnya waktu pembagian ujian saya agak sedikit tercengang. karena saya masih mendapatkan nilai walaupun tidak begitu tinggi. Nah, kalau saya rasakan. Guru tersebut menghargai pekerjaan saya. bukan hasil tulisan itu. tidak apa tulisan itu tidak berbobot, karena keberanian untuk menulis saja sudah merupakan prestasi. mungkin begitu. Hehehehehehe

Ya, sama sekali saya tidak bisa menulis sesuatu yang menarik; yang renyah; gurih; apalagi nikmat. Tapi saya tetap berusaha untuk bisa menulis yang baik. Pernah saya membaca sebuah artikel yang bisa membangkitkan gairah untuk selalu menulis. Entahlah, saya sudah lupa dimana saya baca artikel itu. Yang jelas walaupun aku sudah tidak bisa mengingatnya, tapi semangat menulis itu menjadi bagian dalam hidupku *thanks buat yang nulis artikel tersebut*.

Dari sini saya kemudian seperti orang gila. Selalu menulis di setiap kesempatan. Entahlah, saya tulis tentang kebiasaan burukku; tentang keadaanku; tentang sahabat-sahabatku; tentang keadaan sekitarku; tentang kegilaan-kegilaan yang aku lakukan selama ini; ah pokoknya aku menjadi orang yang gila menulis pada abad sekarang ini *sok mantap banget yah??*. Serius, aku menjadi seperti orang gila *ada yang nyletuk –bukannya emang udah gila dari dulu??—*. Tulisan saya itu menyebar dimana-mana. Di komputer-komputer teman, di buku-buku catatan teman *buku catatanku juga*, pokoknya banyak banget dech. Saya tidak pernah mem-publish-nya di majalah atau media lainnya *kecuali terpaksa, soalnya kalau menulis di media, banyak beban yang harus ditanggung. Untuk yang satu ini, Kapan-kapan aja dech*. Tidak semua yang saya tulis, saya posting di blog ini. Soalnya blog ini kan cuman iseng. Jadi isinya juga dari hasil kreatifitas iseng. Lho kok jadi melebar ke mana-mana sieh?

Ternyata, dari pengalam kecil itu saya bisa menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah usang. Bahwa benar menurut peribahasa yang sering didendangkan ketika masih di bangku SMU. Bahwa “Where There is a Will, There is a Way” , “You Can if You Think You Can”. Masa sieh bahasa semudah itu ngga bisa ngerti. Ya udah, aku terjemahin ke dalam bahasa Jawa *tapi bahasa ngasal, yang penting maksud dan kandungannya sama* begini hasilnya “Lek ono karep, mesti ono dalan” , “Sampeyan iso, Lek Sampeyan Pikir Sampeyan iso”. Waduh...yang ngga bisa bahasa jawa pada protes nih, Biar adil saya terjemahin juga deh ke dalam bahasa Indonesia. “ Di mana ada kemauan, di situ ada jalan”, “Anda bisa, jika anda pikir anda bisa”. Ada lagi yang protes, “kalau yang ngga bisa bahasa Indonesia gimana?”. Maka saya akan mnjawab “ga ngurus, mangkane belajar seng rajin” *ga nyambung yah??*

Begitu dech, Intinya, ngga ada yang ngga bisa kalau kita mau. Nah, tentunya bukan hanya dengan kemauan doank kan? Harus ada usaha untuk mewujudkan kemauan tersebut. Nah, usaha inilah yang sebenarnya membentuk diri kita menjadi orang yang tangguh.

Ada sebuah pesan dari seorang wartawan Antara *Pak Munawwar* ketika saya bertemu di Hotel Grand Hyatt, Garden City, Cairo. “Teruslah menulis!! Dengan sendirinya tulisan anda akan tajam”.

Akhirnya, Hanya ada satu jalan untuk meningkatkan kemampuan menulis, yaitu menulis. Apa saja.