<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d35515654\x26blogName\x3dSeruput\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://seruput.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://seruput.blogspot.com/\x26vt\x3d-8552764801363357580', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


Kang Habib, Ayat-Ayat Cinta.

Kang Habib, begitu beliau akrab disapa. Sebenarnya aku tidak mengenal beliau dengan baik, biasa saja. Aku hanya mengenal beliau lewat karyanya yang laris manis terjual di bumi pertiwi, Indonesia. Di Malaysia juga. Ayat-Ayat Cinta, begitu judul karya beliau. Cover depan Novel yang bergambar seorang wanita bermata indah, dengan sorban yang digunakan sebagai cadar, membuat semua orang merasa penasaran untuk membaca novelnya. Bagiku Novel Kang Habib ini sangat perfeksionis. Kalau anda bertanya kenapa, Aku akan langsung menodong anda bahwa anda belum membaca isi novel tersebut. Atau sudah membaca, tapi belum selesai. Sebenarnya simple saja, cerita itu menceritakan tentang seorang mahasiswa yang merantau ke negeri Seribu Menara, Mesir. Mungkin anda sudah membaca keseluruhan isi novel tersebut, dan tidak setuju dengan penilaianku. Itu sah-sah saja. Makanya, lebih baik aku memberikan sedikit alasan kenapa aku sampai menilai novel itu perfeksionis. Mungkin dengan begitu anda bisa sedikit tahu, Ingat!!! Sekedar tahu saja, Aku tidak membuka layanan protes, toh ini pendapat pribadi dan alasan pribadiku saja. Maka dengan lantang aku menolak itu diprotes, hahahahaha...


Bagiku, novel itu sangat perfeksionis. Karena tokoh utamanya, Si Fahri, selalu berhasil melewati masa-masa sulitnya dengan mudah. Dan lagi, tokoh utamanya dengan begitu mudahnya bisa menjalani S2-nya dengan tanpa rintangan. Semudah itukah di Al-Azhar? Tentu tidak, Ok saya berikan contohnya. Ada sahabat saya yang sudah hampir tujuh tahun belum bisa menyelesaikan study-nya di Al-Azhar. Bukan karena dia malas, bukan karena tidak belajar, bukan karena sibuk di Organisasi, bukan juga karena ngurusin perempuan yang masih belum jadi istrinya, tapi karena sulitnya menemui sang dosen yang membimbingnya. Bodoh, tidak, sahabatku ini bukan orang bodoh, kalau bodoh, tidak mungkin beliau menyelesaikan S1-nya dengan nilai imtiyaz dalam setiap tingkatnya. Mulus, tanpa hambatan. Sahabatku ini sering bercerita, bagaimana sulitnya berurusan dengan pembimbingnya. Sang pembimbing adalah dosen yang sehari di Mesir, sehari di Prancis, sehari di Amerika, dan sehari lagi entah dimana, yang jelas hari-hari lainnya habis dalam perjalanan. Sahabatku ini memang tidak pernah berputus asa, selalu berjuang penuh semangat. Dia merasa yakin, bahwa suatu hari dia pasti bisa menyelesaikan jenjang S2 di al-Azhar juga.


Hingga suatu hari, dia pamit kepadaku bahwa dia akan pulang ke Indonesia. “kenapa?” pertanyaan itu keluar dengan spontan dari mulutku yang kata orang terbilang mungil ini. “Sorry, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan studyku. Sepertinya aku harus melanjutkan studyku ini di Indonesia.” Sungguh, aku tidak pernah menyangka bahwa orang setegar dia bisa merasakan hal semacam itu. Dan aku tidak percaya, karena dia adalah seorang mahasiswa yang sopan, tekun, tegar dan penuh semangat. “Kenapa sampai mengambil keputusan seperti itu?” Tanyaku, heran. “Ya, mungkin ini yang terbaik buat saya. Mudah-mudahan ini memang benar-benar jalan yang terbaik bagi saya. Lagian, saya sudah memohon petunjuk kepada yang kuasa. Dan sepertinya, jalan inilah yang ia tunjukkan.” Jelasnya dengan panjang lebar. “Kamu yakin?” Tanyaku, menguji. “bukan sekedar yakin, saya sudah sangat mantap dengan pilihan ini. Karena saya sendiri sadar, salah lebih baik, daripada tidak mengambil keputusan sama sekali. Dan seandainya pilihanku ini salah, mudah-mudahan aku bisa mendapatkan yang lebih baik di Indonesia kelak.” Dengan mantapnya ia menjelaskan.


Aku merasakan kekuatan kalimat-kalimatnya. Dia begitu mantap, hingga aku tidak bisa mengeluarkan satu kalimatpun untuk mengajaknya membatalkan niatnya itu. Aku harus merelakannya. “Ok, Sahabat, jika dengan itu kamu sudah mantap, pulanglah. Aku yakin dengan kemantapanmu itu. Kamu akan menjadi orang sukses. Pergilah, dan jangan sampai lupa niat awalmu.” Dan akupun melepas kepergiannya. Tanpa rasa sedih. Tanpa air mata. Yang ada hanya semangat dan dukungan yang penuh. Selamat berjuang, Sahabat.


Itu hanya satu contoh kecil yang ia ceritakan. Aku yakin, bahwa masih ada misteri lain yang belum ia ceritakan. Ia memilih pulang ke Indonesia, karena dia tidak sanggup lagi hidup di negeri Kinanah ini. Tentu saja karena alasan ekonomi, karena mahasiswa di sini tidak seperti mahasiswa di Australia, atau negeri-negeri lainnya yang dengan mudah bisa bekerja. Dia sudah malu untuk terus minta uang kepada orangtuanya, sementara dia sendiri tidak bisa mendapatkan beasiswa lagi. Dia ingin kuliah sambil bekerja. Agar tidak membebani orang tua. Ya, karena pikiran beliau memang sudah cukup matang untuk berpikir seperti itu. Dia ingin mandiri.


Nah, begitu deh. Walaupun perfeksionis, bukan berarti aku enggan untuk mengangkat jempol buat karya kang Habib ini. Terima kasih Kang, anda telah mengangkat “martabat” mahasiswa al-Azhar. Dan dengan begitu, anda telah memompa semangat Masisir untuk tekun belajar dan terus berkreasi. Doakan kita, ya!!


« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

» Post a Comment